Jumat, 16 Januari 2026

Opsi Serangan ke Iran Masih Terbatas, Trump Terkendala Kekuatan Militer AS di Timur Tengah

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Donald Trump Presiden Amerika Serikat. Foto: Politico

Opsi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai masih terbatas, di tengah pertimbangan Washington untuk mengambil langkah tegas seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan meluasnya aksi protes di dalam negeri Iran.

Melansir kantor berita Anadolu, Kamis (15/1/2026), menurut sejumlah pejabat AS, Donald Trump Presiden telah menerima berbagai proposal dari Pentagon, termasuk opsi untuk menargetkan program nuklir Iran.

Namun, para pejabat menilai pilihan yang dimiliki Trump kini semakin menyempit, akibat keterbatasan postur kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada Juni lalu, AS diketahui melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan, dalam operasi Midnight Hammer. Serangan itu terjadi di tengah perang Iran-Israel yang berlangsung selama 12 hari.

Meski demikian, kekuatan militer AS di Timur Tengah saat ini tidak sekuat sebelumnya. Pentagon telah memindahkan kapal induk Gerald R. Ford beserta sejumlah kapal perang lainnya dari Mediterania Timur ke wilayah Karibia. Langkah tersebut secara signifikan mengurangi daya tembak angkatan laut AS di kawasan.

Kendati demikian, Angkatan Laut AS masih mempertahankan tiga kapal perusak yang dilengkapi rudal di Timur Tengah. Salah satunya adalah USS Roosevelt yang baru-baru ini memasuki Laut Merah, menurut keterangan pejabat militer kepada New York Times.

Selain itu, Pentagon juga mengonfirmasi keberadaan setidaknya satu kapal selam yang mampu meluncurkan rudal dan saat ini tengah beroperasi di wilayah tersebut.

Para pejabat AS menyebut, selain serangan militer langsung, opsi lain yang lebih mungkin dilakukan adalah serangan siber atau serangan terbatas yang menargetkan aparat keamanan dalam negeri Iran.

Tapi, skenario-skenario tersebut masih terus dipertimbangkan. Setiap operasi militer diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk persiapan dan berpotensi memicu respons keras dari Iran.

Sebelumnya, seorang pejabat militer senior AS mengatakan bahwa para komandan membutuhkan waktu tambahan untuk mengonsolidasikan posisi serta memperkuat pertahanan guna menghadapi kemungkinan serangan balasan.

Untuk diketahui, ketegangan semakin meningkat seiring merebaknya aksi protes di berbagai wilayah Iran. Trump sendiri menyatakan telah membatalkan rencana pertemuan dengan pejabat Iran dan menegaskan dukungannya terhadap para demonstran.

Iran, di sisi lain, menuduh AS dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan dan aksi terorisme di dalam negeri.

Di tengah kekhawatiran akan potensi serangan AS, Qatar mengonfirmasi bahwa sebagian personel telah meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid, salah satu basis utama militer AS di kawasan Teluk.

Retorika keras dari Washington terhadap Teheran juga terus meningkat, seiring gelombang protes yang melanda Iran sejak akhir bulan lalu akibat memburuknya kondisi ekonomi.

Pada Selasa (13/1/2026), Trump mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil tindakan yang sangat keras apabila Iran mengeksekusi para demonstran. Sementara itu, otoritas Iran kembali menuduh AS dan Israel sebagai pihak yang mendukung kerusuhan dan terorisme di tengah aksi protes tersebut.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi mengenai jumlah korban tewas maupun warga yang ditahan. Namun, kelompok pemantau yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan sedikitnya 2.500 orang telah tewas, termasuk demonstran dan aparat keamanan, serta lebih dari 1.100 orang mengalami luka-luka.

HRANA juga menyebut lebih dari 18.000 orang telah ditahan. Meski demikian, angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan masih berbeda dengan estimasi dari sumber lain.

Situasi ini menempatkan hubungan AS-Iran pada salah satu titik paling tegang dalam beberapa waktu terakhir, dengan risiko eskalasi konflik yang semakin besar di tengah ketidakpastian politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah. (bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 16 Januari 2026
25o
Kurs