Jumat, 16 Januari 2026

Mulai 2026, Skrining Kusta Disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan. Foto: Antara

Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan (Menkes) mengatakan, mulai 2026, skrining kusta atau penyakit kulit akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut pada 2030.

“Kita tinggal ubah sedikit isinya, tadinya belum ada screening lepra. Sekarang kita masukin screening lepra mulai tahun ini,” kata Budi di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Menkes menegaskan, meski kusta adalah penyakit yang sulit menularnya, pihaknya berkomitmen untuk mencari penderitanya sebanyak-banyaknya dan segera mengobatinya.

Dia menjelaskan, saat ini, ada sekitar 13.000-15.000 penderita kusta di Indonesia. Namun, jumlahnya bisa lebih banyak dari angka tersebut.

Oleh karena itu, Kemenkes juga mendorong skrining kusta secara masif dengan memberi penghargaan pada kepala daerah dan puskesmas yang banyak menemukan kasus penyakit tersebut.

Selain memasukkan skrining kusta ke dalam CKG, sebagai upaya memperkuat cakupan deteksi, pihaknya akan melakukan tes PCR bagi penduduk Indonesia bagian timur.

Kemudian, pihaknya juga mengobati pasien hingga sembuh, baik selama 6 bulan ataupun 12 bulan. “Nomor tiga, semua kontak eratnya, sekeluarga, kita kasih profilaksis,” katanya.

Mohammad Hasan Ansori Direktur Eksekutif The Habibie Center pada kesempatan yag sama mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kemenkes dan The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik.

“Riset yang kami lakukan dengan tim belum selesai yang dilakukan 4 wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek,” katanya.

Menurutnya, dua tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi orang yang terdampak kusta dan keluarganya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie mengatakan, Indonesia adalah satu dari tiga negara dengan kasus kusta yang banyak, selain India dan Brazil.

“Untuk kita benar-benar bisa memberantas ini, kita perlu adanya pendekatan. Ya tentu ada kebijakan medis, Tapi juga ada pendekatan secara sosial, bahkan agama,” katanya. (ant/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 16 Januari 2026
25o
Kurs