Jumat, 16 Januari 2026

Mengapa Tarot Jadi Solusi Gen Z Mengurangi Depresi? Ini Kata Psikolog Unair

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi pembacaan tarot. Foto: Antara

Unik dan tidak biasa, nampaknya jadi karakter yang melekat pada generasi Z. Karakter ini membuat perbincangan mengenai Gen Z tiada habisnya.

Universitas Airlangga (Unair) menyoroti cara Gen Z menghadapi situasi yang memicu depresi, yaitu dengan menggunakan kartu tarot. Tarot tidak jarang jadi pilihan untuk mengurangi rasa gelisah, baik karena hal yang sudah atau belum terjadi.

Dian Kartika Amelia Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair) menyoroti tren tersebut dari prespektif psikologi. Meski tren ini sudah terjadi sejak generasi sebelumnya, Dian menyoroti mengapa Gen Z masih menggandrunginya?

“Dari perspektif psikologi, salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelas Dian dalam rilis Humas Unair yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (16/1/2026).

Pembacaan tarot dapat memicu khayalan akan masa depan atau apa yang terjadi pada individu tersebut. Efek ini mengurangi kecemasan dan jadi salah satu coping mechanism.

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.

Ketika seseorang terlalu mengandalkan tarot, dia akan merasa apa yang terjadi adalah takdir dan tidak berusaha memperbaiki keadaan. Hal ini disebut self-fulfilling prophecy.

“Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.” ungkapnya.

Dian menyarankan, belajar mengelola stress dengan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi dan rutin olahraga. Namun saat seseorang tidak mampu menghadapi krisis emosional, lebih baik meminta bantuan psikolog atau psikiater untuk mendapat penanganan profesional.(lea)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 16 Januari 2026
31o
Kurs