Jumat, 16 Januari 2026

Komnas PA Surabaya Ingatkan Bahaya Child Grooming, Minta Ortu Tak Putus Komunikasi dengan Anak

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi child grooming. Foto: Shutterstock

Fenomena child grooming belum lama ini menjadi perhatian serius masyarakat, setelah jadi topik hangat di media sosial.

Syaiful Bachri Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Surabaya menerangkan bahwa sasaran utama child grooming adalah anak-anak di bawah umur. Modus yang digunakan pelaku adalah membangun kepercayaan, lalu melakukan kontrol pada korban.

Munculnya kembali fenomena ini, membuat Syaiful perlu mengingatkan kembali pada seluruh orang tua agar terus waspada terhadap perilaku anaknya. Bahkan, dia meminta agar orang tua terus menjalin komunikasi dengan anak.

“Bangun komunikasi yang baik antara anak dengan keluarga, terutama orang tua. Komunikasi yang dekat dan terbuka membuat anak lebih nyaman untuk berbicara,” katanya, Jumat (16/1/2026).

Selain komunikasi, lanjut Syaiful, orang tua juga diminta lebih peduli dengan perkembangan zaman dan isu yang sedang marak. Ini dilakukan untuk memberikan edukasi lebih dini, bekal anak agar menjauhi hal tersebut.

Menurut Syaiful, minimnya kedekatan emosional sering membuat anak mencari perhatian di luar rumah.

“Hal ini biasanya terjadi karena anak tidak memiliki kedekatan secara emosional maupun kedekatan aktual dengan orang tua,” tambahnya.

Lebih lanjut, Syaiful menekankan pentingnya pembatasan dan pemantauan penggunaan media sosial dan game online. Menurutnya, ini bukan sekadar larangan semata, tapi juga sebagai upaya melindungi anak dari pengaruh buruk.

Dia membenarkan bahwa di era saat ini, orang tua kerap dianggap kolot atau ketinggalan zaman oleh anak-anak, karena menerapkan beberapa aturan.

“Tapi, orang tua seharusnya tidak kehilangan cara untuk tetap melakukan pendekatan pada anak. Salah satunya yakni, dengan komunikasi,” ungkapnya.

Syaiful berharap orang tua bisa lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, dengan mengenali beberapa tanda yakni, anak menjadi lebih tertutup, sensitif, dan mudah bereaksi berlebihan karena kesulitan menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri.

“Jika orang tua mendapati anaknya menjadi korban child grooming, ada baiknya terus berusaha mengajak anak berbicara secara terbuka dan menempatkan diri sesuai peran,” tutupnya.(kir/ris/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 16 Januari 2026
28o
Kurs