Senin, 19 Januari 2026

Donald Trump Dikabarkan Batalkan Serangan Militer Terhadap Iran

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Iran. Foto: iStock

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dikabarkan membatalkan opsi serangan militer terhadap Iran imbas konflik diplomatik, hambatan logistik, dan penolakan kuat dari mitra strategis regional.

“Situasinya sangat genting. Militer berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu dengan sangat cepat,” kata seorang pejabat AS kepada media Axios, Minggu (18/1/2026).

Melansir Antara, sebelumnya pemerintah dari berbagai negara Timur Tengah berharap adanya operasi segera setelah pertemuan hari, Selasa (13/1/2026) lalu. Namun, perintah tersebut tidak pernah datang.

Trump sendiri awalnya membatasi ruang gerak militer Iran, tetapi ragu-ragu karena masalah lain mulai bermunculan.

Salah satu alasan yang memengaruhi pembatalan tersebut adalah pergeseran aset militer AS ke Karibia dan Asia, yang membuat kekuatan di Timur Tengah tidak cukup siap. Para pejabat juga mencatat bahwa “wilayah tersebut belum siap,” sehingga membatasi pilihan yang tersedia.

Faktor penentu adalah pertukaran informasi rahasia antara Steve Witkoff utusan AS dan Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran. Pada Rabu (14/1/2026) pagi, Araghchi dilaporkan mengirim pesan kepada Witkoff, berkomitmen untuk menghentikan pembunuhan dan menghentikan eksekusi yang dijadwalkan terhadap para demonstran.

Lebih lanjut, Benjamin Netanyahu pemimpin Israel dilaporkan memperingatkan Trump bahwa Israel tidak siap menghadapi pembalasan Iran, dan berpendapat bahwa rencana AS yang diusulkan tidak memiliki kekuatan yang cukup.

Demikian pula, Mohammed bin Salman Putra Mahkota Arab Saudi menyatakan rasa prihatin yang mendalam mengenai potensi dampak terhadap stabilitas regional.

Pada Rabu sore, para pejabat AS juga mengatakan bahwa perintah serangan tidak akan datang.

Trump presiden telah berulang kali menyatakan dukungan untuk para demonstran Iran dan mengkritik keras penanganan pemerintah terhadap demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember 2025 di Tehran terkait kondisi ekonomi.

Presiden AS itu sebelumnya mengindikasikan bahwa dia dapat melancarkan serangan militer, jika Iran merespons demonstran dengan kekuatan mematikan.(ant/ily/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 19 Januari 2026
31o
Kurs