Kamis, 22 Januari 2026

Kekerasan di Sekolah Tembus Ribuan Kasus, DPR Sebut Sistem Pendidikan Sedang Sakit

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Lalu Hadrian Irfani Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Foto: istimewa

Lalu Hadrian Irfani Wakil Ketua Komisi X DPR RI menyampaikan keprihatinan serius atas maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang tahun 2025.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal kuat bahwa sistem pendidikan nasional tengah menghadapi persoalan mendasar.

“Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan di sekolah dan perguruan tinggi. Bentuknya bukan hanya fisik, tapi juga verbal. Ini alarm keras bagi dunia pendidikan kita,” ujar Lalu Hadrian, Kamis (22/1/2026).

Menurut Lalu Hadrian, tingginya angka kekerasan menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjalankan fungsinya sebagai ruang aman dan humanis bagi peserta didik.

“Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia. Kalau justru kekerasan yang muncul, berarti ada kesalahan serius dalam praktik dan tata kelola pendidikan kita,” tegasnya.

Lalu Hadrian menyoroti beberapa peristiwa yang mencuat ke publik, satu di antaranya insiden kekerasan antara guru dan siswa di sebuah SMK di Jambi. Dalam kasus tersebut, tindakan kekerasan oleh guru memicu reaksi berantai hingga berujung pada pengeroyokan terhadap guru oleh siswa.

Ia juga menyinggung kasus guru yang membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah, yang menurutnya menunjukkan kegagalan dalam memahami relasi edukatif antara pendidik dan peserta didik.

“Kalau ada guru membawa senjata tajam ke sekolah, itu sudah kebablasan. Relasi edukasi benar-benar tidak dipahami dengan benar, baik oleh guru maupun siswa,” ujarnya.

Dia menilai hubungan guru dan murid saat ini mengalami degradasi nilai. Guru dinilai belum sepenuhnya tampil sebagai figur teladan, sementara siswa juga kehilangan rujukan nilai dalam proses pembelajaran.

“Guru itu seharusnya menjadi panutan dan figur yang diidolakan siswa, bukan justru terlibat konflik atau kekerasan,” kata Lalu Hadrian.

Lebih jauh, ia menekankan perlunya penguatan pendidikan karakter secara serius dan berkelanjutan. Menurutnya, orientasi pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada capaian akademik telah menggeser nilai-nilai dasar pembentukan karakter.

“Pendidikan tidak boleh hanya mengejar nilai dan prestasi akademik. Pendidikan karakter adalah fondasi utama untuk membentuk akhlak dan kepribadian siswa. Ini yang harus kita benahi bersama,” pungkasnya.(faz/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 22 Januari 2026
27o
Kurs