Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya dan Armuji Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya kompak membantah “ada polarisasi maupun konflik” di antara mereka dalam menjalankan roda pemerintahan di Kota Pahlawan.
Penegasan itu disampaikan keduanya, saat mengisi Program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2026). Baik Eri maupun Armuji kompak mengaku kalau keduanya justru semakin intens berkoordinasi.
Eri bahkan menegaskan, kalaupun memang ada polarisasi maupun konflik antara dirinya dengan Cak Ji sapaan akrab Wawali, maka harusnya tak ada periode kedua memimpin Kota Surabaya.
“Kalau saya ini ada polarisasi dengan Cak Ji, ada pertempuran dengan Cak Ji, ora ngomong kita cuman ketawa aja. Yo gak mungkin saya akan bersama dengan Cak ji di periode kedua,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa sejak awal sudah ada kesepakatan pembagian peran antara dirinya dan wali kota. Contohnya, Eri Cahyadi di bagian pengambil kebijakan, sementara Armuji yang turun ke lapangan.
“Saya bilang waktu sama beliaunya, ‘Cak, kita punya gaya yang berbeda. Jenengan (Anda) bergerak ke lapangan dengan kontennya jenengan. Saya punya kebijakan dan sampean jalankan itu’,” kata Eri.
Menurut Wali Kota, perbedaan gaya justru menjadi kekuatan tersendiri dalam memimpin Kota Surabaya.
“Waktu ada isu rame-rame gitu, terus kita bertemu ya ngguya-ngguyu ae (ketawa-ketawa aja). Kita senyam-senyum aja. (saya bilang) Cak, ojo di-reken, engko gendeng (jangan dihiraukan, gila nanti). Ya jarno aja (biarin aja),” ucapnya.
Eri menegaskan bahwa pembagian peran tersebut sudah berjalan sejak periode pertama kepemimpinannya. Dia menjelaskan bahwa Armuji memiliki kekuatan di lapangan, sedangkan dirinya fokus pada kebijakan.
“Cak Ji dengan saya ini berbagi peran. Kalau saya ini ada polarisasi dengan Cak Ji, orang ngomong kita cuman ketawa aja,” ucapnya menguatkan pembagian peran tersebut.
Pada kesempatan itu, Armuji turut menegaskan kalau pembagian peran antara dirinya dengan Eri Cahyadi sudah tepat. Cak Ji menyebut, dirinya memang tipikal orang yang biasa turun ke lapangan, bukan sosok yang fokus ke birokrasi.
“Saya bilang sama Pak Eri, ‘wis tah lah, pokoke lak (pokoknya) itu (urus) masalah kebijakan pemerintah kota, karena sampean (anda) itu orang birokrasi. (Kalau) saya orang lapangan, seorang politikus yang biasa terjun di lapangan, awake dewe gak iso meneng (kita tidak bisa diam)’,” ucapnya.
Cak Ji kemudian juga menjelaskan bahwa selama ini, dirinya kerap menemani bahkan menggantikan Eri Cahyadi dalam kegiatan tertentu. Mulai dari pemberian penghargaan, hingga memimpin upacara saat Wali Kota berhalangan.
“Pak Eri kalau ke luar kota, saya disuruh memimpin di posisi apapun yang diberikan kepada saya, itu selalu saya jalankan,” ungkapnya.
Hal itu disampaikan Cak Ji, menepis isu bahwa dirinya jarang diajak Wali Kota Surabaya menghadiri kegiatan seremonial tertentu, sehingga kerap memunculkan anggapan bahwa keduanya tidak akur.
“Loh iku ono pelantikan gak dijak (tidak diajak) loh. Aku loh gak lak (saya loh tidak) terlalu seremonial, gak patek kerasan aku ngono-ngono iku (tidak terlalu betah di acara-acara seperti itu),” ucapnya..
Meski demikian, Wawali juga mengaku bahwa sejak awal ia sudah mengingatkan soal adanya potensi adu domba. Karenanya, ia juga menegaskan bawha dirinya bukan tipe pemimpin yang mudah tersulut emosi oleh isu.
“Kita itu orang yang tidak baperan gitu loh. Enggak iso diadudomba karo orang (sama orang), enggak bisa,” tuturnya. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
