Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) berencana mengalihkan sebagian pemberangkatan jemaah haji Jawa Timur ke Bandara Dhoho, Kediri, pada pelaksanaan ibadah haji 2027 mendatang.
Menurut Mochamad Irfan Yusuf Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Bandara Dhoho dipilih sebagai alternatif embarkasi, karena secara teknis dinilai sudah memenuhi syarat.
“Bandara Kediri kami pilih sebagai alternatif embarkasi, karena secara teknis sudah memenuhi syarat semuanya, tinggal tahun depan kita siapkan,” katanya, Jumat (23/1/2026).
Gus Irfan sapaan akrabnya, menilai bahwa lokasi Bandara Dhoho cukup strategis untuk melayani jemaah haji dari Jatim bagian selatan.
“Pembagian keberangkatan ini sekaligus mengurangi kepadatan di Bandara Internasional Juanda,” tambahnya.
Dia mengaku, sebenarnya Bandara Dhoho bisa dipakai untuk memberangkatkan jamaah tahun ini. Tapi karena kesiapannya baru muncul belakangan, sehingga baru bisa dipakai tahun depan.
“Sebetulnya kita bisa (menggunakan Bandara Internasional Dhoho, Kediri) tahun ini, tetapi karena kesiapannya baru muncul belakangan, jadi agak terlambat, sehingga kita pastikan tahun depan kita pakai Kediri,” tuturnya.
Sebagai informasi, Embarkasi Surabaya menjadi salah satu embarkasi terpadat dalam penyelenggaraan haji.
Pada 2025, Embarkasi Surabaya melayani sebanyak 36.845 jemaah, yang terbagi dalam 97 kelompok terbang (Kloter).
Sementara pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, Embarkasi Surabaya menjadi titik keberangkatan 116 kloter.
Hal itu dikarenakan, Embarkasi Surabaya tidak hanya melayani keberangkatan jamaah dari Jawa Timur saja, tetapi juga dari Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur.
Meski begitu, Kemenhaj hanya memfokuskan asrama haji di Surabaya saja.
“Kalau di Bandara Dhoho nanti dikelompokkan ke wilayah yang lebih dekat, supaya lebih efisien, efektif, tidak terlalu memberikan rasa capek kepada jemaah,” tutupnya.(kir/ris/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
