Jumat, 23 Januari 2026

Longsor Tambang Freeport Sebabkan Produksi Emas Turun 86 Persen

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Tim penyelamat tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia menggunakan berbagai peralatan berupaya menyelamatkan tujuh pekerja yang masih terjebak di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) Tembagapura. Foto: Arsip Freeport Indonesia

Freeport-McMoRan Inc (FCX) melaporkan insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) berdampak signifikan terhadap kinerja produksi, khususnya emas, yang anjlok hingga 86 persen pada kuartal IV 2025.

Mengacu pada laporan kinerja FCX yang dikutip Antara, Jumat (23/1/2026), produksi emas PT Freeport Indonesia pada periode tersebut tercatat hanya 61 ribu ons. Angka ini merosot tajam dibandingkan kuartal IV 2024 yang mencapai 428 ribu ons.

Jika ditinjau secara tahunan, produksi emas sepanjang 2025 tercatat 937 ribu ons, turun 49,7 persen dari capaian 2024 yang sebesar 1,861 juta ons.

Penurunan kinerja juga terjadi pada komoditas tembaga. Produksi tembaga PT Freeport Indonesia pada kuartal IV 2025 hanya mencapai 49 juta pon, atau merosot 89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 429 juta pon.

Secara akumulatif, produksi tembaga sepanjang 2025 tercatat 1.015 juta pon, turun 43,6 persen dari realisasi 2024 yang mencapai 1.800 juta pon.

Dalam laporannya, FCX menjelaskan bahwa pada kondisi operasi normal, tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia memiliki kapasitas produksi sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun. Realisasi produksi sekitar 1 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas sepanjang 2025 mencerminkan dampak penghentian sementara operasional tambang GBC sejak September 2025.

PT Freeport Indonesia menargetkan aktivitas pertambangan di GBC dapat kembali berjalan pada kuartal II 2026. Rencana pemulihan ini mencakup dimulainya produksi di Blok 2 dan Blok 3, sementara Blok 1 ditargetkan kembali beroperasi pada 2027.

Dengan skema tersebut, Freeport Indonesia memperkirakan sekitar 85 persen dari kapasitas produksi normal dapat pulih pada paruh kedua 2026.

Laporan itu juga menyebutkan berbagai langkah prasyarat untuk memulai kembali produksi telah berjalan sesuai jadwal, antara lain pembersihan lumpur di area tambang, perbaikan infrastruktur pendukung, serta pemasangan sistem pengamanan sesuai ketentuan.(ant/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 23 Januari 2026
25o
Kurs