Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) memperkuat upaya pelestarian lingkungan di sekolah dengan menggalakkan lagi gerakan pengurangan bahan plastik.
Aries Agung Paewai Kepala Dindik Jatim menyatakan, langkah itu ditekankan melalui penerbitan imbauan Kadndik Jatim dengan nomor 000.5/443/101.1/2026.
“Kami ingin gerakan inisiasi ini menjadi langkah untuk meminimalisir sampah plastik. Karena kita tahu, penggunaan sekali pakai ini jika tidak dikelola dengan baik akan susah terurai oleh bumi. Dan kita harapkan langkah ini menjadi warisan untuk anak-anak kita kedepan untuk lebih mencintai bumi yang sehat,” katanya, Minggu (25/1/2026).
Langkah tersebut terus ditekan, seiring dengan pengelolaan sampah di Indonesia belum optimal.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, timbunan sampah nasional mencapai 55.474,16 ton per hari. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 35 persen atau 19.204,43 ton per hari yang berhasil dikelola.
Dengan besarnya volume sampah itu, pihaknya ingin insan pendidikan di Jatim turut menjadi solusi dengan menekan timbunan sampah di lingkungan dekolah.
Kadindik mengatakan, plastik berlebihan bisa menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, misalnya bisa menyebabkan pencemaran tanah dan air, merusak ekosistem laut, memicu banjir akibat saluran air tersumbat, dan melepaskan zat beracun yang berbahaya bagi tubuh.
Dengan kondisi itu, pihaknya meminta secara tegas kepada kepala sekolah agar mengimbau para siswa dan pemilik kantin untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.
“Saya mengimbau agar siswa, sekolah dan kantin sekolah untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai, baik berbahan plastik maupun berbahan lain yang menimbulkan sampah di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Dalam gerakkan itu, Dindik Jatim juga mencetuskan lima gerakan mengurangi sampah plastik. Pertama, menggunakan alat makan yang dapat digunakan berulang kali dan tidak menggunakan plastik.
Kedua, menganjurkan membawa tumbler atau botol minum isi ulang dan sedotan pribadi. Ketiga, menggunakan tas belaja berbahan kain untuk pembelian dilingkungan sekolah.
Keempat, meminta kantin sekolah mengurangi penggunakan bahan plastik dan styrofoam serta sejenis untuk membungkus makanan.
Lalu yang kelima, kepala sekolah dan guru harus menjadi teladan bagi murid-murid di lingkungan sekolah untuk kampanye mengurangi sampah plastik dan kebersihan dilingkungan sekolah.
“Kami berharap, program ini bisa menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap pengelolaan sampah sejak dini sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan,” pungkasnya.(ris/bil/rid)
NOW ON AIR SSFM 100
