Minggu, 25 Januari 2026

Surabaya Gunakan Game sebagai Jembatan Belajar Guru dan Siswa

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya hadir di Arena M7 World Championship, Jakarta. Foto: ESI Jatim

Surabaya menunjukkan pendekatan berbeda dalam dunia pendidikan digital. Kota Pahlawan mengajak guru dan siswa belajar bersama melalui game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB). Pendekatan itu tercermin dari kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya di Arena M7 World Championship, Jakarta.

Program ini menjadi bukti bahwa gim tidak selalu identik dengan dampak negatif. Di Surabaya, gim justru menjadi ruang dialog baru antara guru dan siswa. Guru tidak lagi berdiri di luar dunia digital anak, tetapi masuk dan mendampingi secara aktif.

“Fokus kami bukan mencetak pemain profesional, tetapi menanamkan nilai yang berguna di kehidupan nyata. Anak-anak belajar menerima kekalahan, bekerja sama dalam tim, dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan. Itu soft skill penting yang tidak selalu ditemukan di buku pelajaran,” ujar Erina Tan Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games di Arena M7.

Agar pesan tersebut tersampaikan dengan tepat, guru memegang peran sentral. Para pendidik juga dibekali pemahaman bahwa gim bisa menjadi ‘bahasa yang sama’ dengan siswa. Mereka mengajarkan prinsip Pray, Respect, Peace Out (DTS), mulai dari membiasakan berdoa sebelum bermain, saling menghormati, hingga menghindari perilaku toksik di ruang digital.

“Kalau hari ini handphone tidak bisa dilepaskan dari kehidupan, maka anak-anak tidak cukup hanya dilarang. Mereka harus didampingi. Tanpa pendampingan, hasilnya justru tidak akan baik,” kata Febrina Kusumawati Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Menurutnya, MLBB menjadi pintu masuk bagi guru untuk memahami dunia siswa. Pendekatan ini memudahkan guru memantau perilaku anak sekaligus mengarahkan penggunaan gawai secara sehat.

“Moonton datang bukan hanya mengajarkan cara bermain, tetapi menawarkan edukasi sehat. Di dalam gim ada pembelajaran emosi dan kerja sama, itu yang kami manfaatkan untuk pendampingan,” tambahnya.

Sementara itu, M. Hadi Wawan Guntoro Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur menilai program ini mampu menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan minat siswa.

“Pesannya jelas: belajar dulu, baru mabar. Anak-anak tetap memprioritaskan pendidikan, tetapi tetap punya ruang untuk beraktivitas dan belajar kerja tim lewat gim,” ujarnya.

Wawan menambahkan, pengalaman menyaksikan langsung M7 World Championship memberi inspirasi visual bagi siswa dan guru. Mereka melihat bahwa hobi yang dijalani dengan disiplin dan pendampingan dapat berkembang menjadi prestasi berskala dunia. (saf/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Minggu, 25 Januari 2026
29o
Kurs