Senin, 26 Januari 2026

Longsor Bandung Barat, Menteri LH Soroti Tata Ruang dan Alih Fungsi Lahan

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Petugas SAR gabungan melakukan proses pencarian korban di lokasi Longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (25/1/2026). Foto: Antara

Hanif Faisol Nurofiq Menteri Lingkungan Hidup (LH) menegaskan, pemulihan lingkungan dan pembenahan tata ruang harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Hanif menilai bencana tersebut tidak cukup ditangani secara darurat, tetapi perlu pendekatan jangka panjang berbasis kajian ilmiah.

“Penguatan daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi kunci agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga di tengah aktivitas pemanfaatan lahan,” ujar Hanif saat meninjau lokasi di Bandung Barat, Senin (26/1/2026).

Ia memastikan Kementerian Lingkungan Hidup akan segera menurunkan tim ahli lintas disiplin untuk mengevaluasi penyebab longsor. Fokus kajian diarahkan pada perubahan fungsi lahan yang dinilai terjadi secara masif di kawasan tersebut.

“Kami akan melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor sekaligus merumuskan langkah tindak lanjut, terutama terkait tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya dilansir dari Antara.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Cisarua tercatat diguyur hujan selama empat hari berturut-turut dengan intensitas rata-rata 68 milimeter per hari. Hanif menyebut curah hujan tersebut memang menjadi pemicu, namun secara klimatologis belum tergolong ekstrem.

“Dengan intensitas sekitar 68 milimeter per hari, hujan ini sebenarnya tidak terlalu besar. Artinya, ada faktor lain yang perlu dievaluasi secara lebih mendalam,” ujarnya.

Menurut Hanif, sejumlah faktor diduga memperbesar risiko longsor, antara lain karakteristik geologi kawasan, kemiringan lereng, serta aktivitas pembukaan lahan pertanian yang tidak menerapkan prinsip pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Perubahan fungsi lahan tanpa penguatan vegetasi dan terasering dinilai membuat lereng semakin rentan terhadap pergerakan tanah saat hujan.

“Penataan ruang yang berkelanjutan serta pemulihan vegetasi di lereng-lereng kritis merupakan solusi jangka panjang yang tidak bisa ditawar,” tegas Hanif. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 26 Januari 2026
27o
Kurs