Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Selasa (26/1/2026) dengan penguatan tipis 14 poin atau 0,08 persen, menjadi Rp16.768 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya Rp16.782 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat melemah ke level Rp16.801 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.779 per dolar AS.
Taufan Dimas Hareva analis mata uang menyebut penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global yang relatif kondusif.
“Penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan respons terhadap sentimen global yang relatif kondusif,” ujarnya.
Taufan menjelaskan, pergerakan rupiah masih sejalan dengan arah dolar AS dan sentimen risiko pasar keuangan internasional. Dolar yang melemah dan meningkatnya selera risiko investor memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Meski demikian, penguatan rupiah masih terbatas karena pelaku pasar tetap waspada terhadap ketidakpastian kebijakan moneter global dan rilis data ekonomi AS yang berpotensi memicu volatilitas.
Dilansir dari Antara, di sisi domestik, pasar juga mencermati kebijakan dan persepsi terhadap kredibilitas otoritas moneter. Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menjadi sorotan, namun Taufan menekankan pengaruhnya lebih bersifat psikologis dan jangka pendek.
“Pelaku pasar valuta umumnya lebih menimbang isu independensi bank sentral dan konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar dibandingkan figur personal,” katanya.
Dengan demikian, selain dukungan sentimen global, penguatan rupiah juga mencerminkan keyakinan pasar terhadap komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas, bukan semata akibat perubahan posisi internal bank sentral. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
