Rabu, 28 Januari 2026

Psikiater Sebut NPD Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik dan Lingkungan

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Narcissistic Personality Disorder merupakan gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang memandang tinggi dirinya sendiri secara berlebihan. Ilustrasi Foto: Shutterstock

Agustina Konginan psikiater mengungkap Narcissistic Personality Disorder (NPD) bisa disebabkan faktor turunan. Tapi NPD tidak terjadi begitu saja, melainkan ada penyebab lainnya yang memicu gangguan kejiwaan ini.

“Jadi dia dibentuk, kepribadian dibentuk, dari mulai pola asuh, faktor genetik. Genetik itu, kalau orang tuanya begini, anaknya begini, jadi menurun gitu ya. Pengalaman yang dilalui, anak kembar pun tidak sama (kepribadiannya). Agama, pendidikan, banyak faktor,” kata Agustina di program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (28/1/2026).

Agustina yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Kota Surabaya mengingatkan, kepribadian narsis bisa jadi normal, tidak selalu masuk kategori gangguan kejiwaan.

“Kalau orang mau tampil cantik, itu normal. Kalau NPD tanpa D, narcissistic personality itu bukan gangguan. Hanya ciri-ciri yang mewarnai, tidak hanya satu, ada perfeksionisnyalah sedikit. Jadi campur-campur, gak cuma narsistik. Tapi kalau sudah gangguan, kalau dengan kepribadian itu tidak fleksibel dan adaptable lagi,” ungkapnya.

Agustina menegaskan, kalau NPD bisa ditunjukkan dengan perilaku semua harus tertuju pada orang tersebut. Di saat ada konflik dan tidak cocokan pendapat bisa terjadi gangguan yang luar biasa.

“Marah, emosi dan lain sebagainya, itu baru NPD. Ketika kita sadar tentu ada yang mengganggu di kita, kurang nyaman, cemas, sedih mungkin. Sadari seberapa kemampuan kita menghadapi masalah-masalah ini,” tuturnya.

Saat seseorang tidak bisa lagi mengatasi gangguan-gangguan tersebut, Agustina menyarankan cepat mencari bantuan. Misalnya dengan curhat.

Hati-Hati Tidak Boleh Curhat Sembarangan!
Agustina mengakui salah satu cara mengurangi kecemasan atau gangguan kejiwaan yang dialami seseorang adalah curhat. Namun perlu berhati-hati, jangan sampai curhat malah membawa dampak negatif.

“Ada pasien saya sering self harm, sampai saya konsultasikan ke bedah. Saya katakan apa pendapatnya soal luka itu, saya ditunjukkan HP dia, ada komunitas. Dia masuk komunitas, difoto lukanya. Saya heran dengan reaksi orang-orang itu, bukan nasehat. Jempol loh, saya bangga dengan ini,” pungkasnya.

Hal yang harus disadari, seberapa kuat seseorang menghadapi sebuah masalah. Tapi kalau tidak bisa mesti diterima, dan diselesaikan dari dalam diri sendiri.

“Spiritual itu bagus, ketika kita menyerahkan pada Tuhan. Kita harus yakin, jangan hanya dari kata-kata saja. Berserah, tapi dipikir terus kayak hutang. Itu perlunya datang ke psikolog dan ke psikiater, ketika sudah tidak terselesaikan sendiri atau curhat tidak cukup,” ungkapnya. (lea/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Rabu, 28 Januari 2026
29o
Kurs