Prof Dr I Gde Rurus Suryawan Dosen Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mendorong inovasi untuk intervensi koroner perkutan atau prosedur medis non-bedah untuk membuka pembuluh darah jantung yang tersumbat.
Hal ini ia sampaikan saat pengukuhan guru besar dalam bidang Intervensi Koroner di Kampus MERR-C Unair, Surabaya, pada Kamis (29/1/2026).
Dalam pidatonya, Prof Rurus menyoroti teknologi bioresorbable vascular scaffold (BVS) sebagai inovasi dari teknologi stent, atau dikenal juga dengan teknik pasang ring.
Menurutnya, stent logam mampu meminimalisir risiko penyempitan ulang pembuluh darah. Namun, penggunaan stent berlapis obat perlu pengobatan jangka panjang yang dapat meningkatkan risiko pendarahan.
Berbeda dengan stent logam, BVS yang dipasang di pembuluh darah jantung untuk membuka sumbatan akan larut dan diserap tubuh setelah fungsi pembuluh darah kembali stabil.
Selain itu, Prof Rurus juga menekankan pentingnya material polimer yang kuat agar stent dapat menopang pembuluh darah tanpa meninggalkan efek jangka panjang.
“Jika teknologi BVS dapat dioptimalkan, maka fungsi fisiologis pembuluh darah koroner dapat tetap terjaga dan kebutuhan terapi anti-platelet jangka panjang dapat dikurangi,” jelasnya.
Inovasi tersebut muncul setekah data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat serangan jantung menyebabkan 17,8 juta kematian secara global.
Prof Rurus memaparkan bahwa serangan jantung koroner terjadi akibat sumbatan mendadak pada arteri koroner yang menghambat aliran darah dan oksigen menuju otot jantung.
Kondisi ini memicu kerusakan jaringan jantung yang akan semakin meluas apabila penanganan tidak dilakukan secara cepat dan tepat.
“Setiap menit keterlambatan berkontribusi pada semakin luasnya kerusakan otot jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat aritmia, gagal jantung akut, hingga edema paru akut,” ujar Prof Rurus.
Selain teknologi stent BVS, Prof Rurus juga mengembangkan Skor RURUS SURYAWAN, sistem prediksi klinis berbasis 13 parameter sederhana untuk menilai peluang hidup pasien pasca serangan jantung.
Ia mendorong penerapan skor tersebut untuk menekan angka kematian akibat penyakit jantung koroner dan mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3.(ily/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
