Sabtu, 31 Januari 2026

IHSG Runtuh : Bukan Panic Selling, Tapi Panic of Trust

Laporan oleh Eddy Prastyo
Bagikan
Ilustrasi. Foto: AI Generated

Dalam dua hari terakhir, pasar modal Indonesia mengalami guncangan yang jarang terjadi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam sejak Rabu, 28 Januari 2026. Penurunan berlangsung cepat, dalam, dan memaksa Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan dua kali melalui mekanisme “trading halt” dalam rentang waktu 48 jam.

Pada hari pertama, IHSG anjlok lebih dari 7 persen. Keesokan harinya, tekanan jual kembali terjadi di menit-menit awal perdagangan, sebelum akhirnya pasar perlahan pulih di sesi akhir.

Secara angka, ini bukan kejatuhan biasa. Nilai kapitalisasi pasar terkikis puluhan miliar dolar AS hanya dalam dua hari. Ratusan saham masuk zona merah secara serempak. Hampir seluruh sektor terdampak, dari perbankan, energi, hingga konsumsi. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan, dan imbal hasil obligasi pemerintah mulai merangkak naik, menandai kegelisahan yang tidak hanya berhenti di lantai bursa.

Pemicu langsungnya datang dari luar. Pada hari yang sama dengan kejatuhan IHSG, MSCI mengeluarkan pernyataan yang mengguncang kepercayaan investor. Lembaga penyusun indeks global itu membekukan sejumlah penyesuaian terhadap saham Indonesia dan menyampaikan kekhawatiran serius terkait transparansi, likuiditas, serta validitas “free float” di pasar modal nasional. MSCI bahkan membuka kemungkinan penurunan status Indonesia dari “emerging market” menjadi “frontier market” bila perbaikan tidak segera dilakukan.

Reaksi pasar berlangsung nyaris instan. Investor asing melakukan aksi jual besar-besaran. Saham-saham berkapitalisasi besar ikut tertekan, sementara saham dengan “free float” kecil rontok lebih dalam. Bursa terpaksa menekan tombol jeda. Sebuah langkah ekstrem yang biasanya hanya muncul saat krisis global, pandemi, atau gejolak keuangan besar.

Namun ada satu hal yang membuat peristiwa ini terasa berbeda. Sependek pengamatan saya dalam 20 tahun lebih sebagai jurnalis, tidak ada krisis ekonomi global yang meledak tiba-tiba.

Kejadian kemarin, data makro Indonesia relatif stabil. Inflasi terkendali. Pertumbuhan ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda kolaps. Harga komoditas utama bahkan masih berada di level yang menopang pendapatan negara. Dengan kata lain, kejatuhan ini tidak datang dari runtuhnya fundamental ekonomi secara mendadak.

Di tengah situasi itu, langkah-langkah respons mulai muncul. Otoritas pasar mengumumkan rencana perbaikan struktural, mulai dari pengetatan aturan “free float” hingga perluasan basis investor domestik. Pada Jumat, 30 Januari, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia mengundurkan diri. Tak lama berselang, pimpinan Otoritas Jasa Keuangan juga mengambil langkah serupa. Pasar merespons cepat. IHSG menguat. Tekanan mereda, meski belum sepenuhnya pulih.

Rangkaian peristiwa ini menimbulkan satu pertanyaan mendasar.

Jika ini bukan semata soal angka, bukan hanya soal MSCI, dan bukan pula akibat krisis ekonomi yang kasat mata, maka apa yang sebenarnya sedang runtuh? Di titik inilah kejatuhan IHSG perlu dibaca bukan sekadar sebagai “panic selling”, melainkan sebagai sesuatu yang lebih dalam: “panic of trust.”

Eddy Prastyo | Editor in Chief | Suara Surabaya Media

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 31 Januari 2026
28o
Kurs