Senin, 9 Februari 2026

Perlu Penyelidikan, Apa Nama Elit Global di Dokumen Epstein Pasti Terlibat

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Elon Musk, Bill Gates, Sarah Ferguson, dan Ehud Barak. Foto Getty Image

Department of Justice (DOJ) mempublikasi tiga juta halaman dokumen terkait Epstein, beserta 180.000 gambar dan 2.000 video pada 30 Januari 2026.

Penyebaran berkas dilakukan setelah persetujuan Undang-undang (RUU), yang mewajibkan Departemen Kehakiman merilis seluruh dokumen pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Publikasi dokumen tersebut membuat nama-nama tokoh dunia terseret, sebut saja Andrew Mountbatten-Windsor mantan pangeran Britania Raya (Inggris), Peter Mandelson mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Donald Trump Presiden Amerika Serikat, Ehud Barak Mantan Perdana Menteri Israel, Elon Musk CEO Tesla dan SpaceX, Bill Gates pendiri Microsof, hingga Bill Clinton Presiden AS ke 42.

Tapi apakah nama-nama elit global yang terseret itu, berkaitan dengan kasus perdagangan seks anak di bawah umur (sex trafficking of minors) dari Jeffrey Epstein pemodal asal Amerika Serikat?

Agastya Wardhana dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga menilai keterlibatan tokoh-tokoh publik tersebut harus diselidiki dan dibuktikan terlebih dahulu.

“Jadi banyak file-file yang di dalam situ adalah berita-berita, email-email subscription gitu ya, berita yang ada Donald Trump-nya, ada apanya. Jadi kalau memang kita bilang ada orang terkait dengan itu, harus dicek dulu di situ. Terkaitnya apa? Jangan-jangan cuma muncul di berita yang ada di emailnya,” ungkap Agastya di program Wawasan Radio Suara Surabaya, Senin (9/2/2026).

Namun Agastya menyoroti betapa kuatnya elit-elit global, yang kehidupannya jauh dari jangkauan masyarakat.

“Kita lihat di kasus Epatein ini. Jadi pelajarannya menurut saya, bukan tentang konspirasi elit globalnya. Tapi bahwa bagaimana powerful people itu ternyata living out of touch dengan realitas kita. Di sana ada presiden, bahkan ada Bill Clinton, di sana misalkan ada Donald Trump gitu ya. Yang kemudian hidup jauh dari kenyataan yang mereka lakukan, bahkan ada scholars (cendikiawan) misalkan, ada mantan Presiden Harvard di situ. Dan gaya hidup seperti itu yang kemudian, ternyata selama ini tidak kita lihat,” pungkasnya.

Agastya menegaskan, dirinya tidak bisa berspekulasi terkait keterlibatan para elit global itu. Lantaran perlu adanya bukti dan fakta yang jelas.

“Kalau konspirasinya ya itu tadi. Orang bisa berspekulasi, orang bisa ini, tapi sampai kita punya fakta yang menyatakan bahwa itu adalah sesuatu yang kejadian, ya kita enggak bisa, saya sebagai pengajar yang enggak bisa ngomong,” katanya. (lea/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 9 Februari 2026
27o
Kurs