Sergey Lavrov Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia menyebut berkas-berkas yang dipublikasikan terkait mendiang Jeffrey Epstein menyingkap apa yang ia sebut sebagai “wajah asli” elite Barat.
Lavrov menilai dokumen tersebut memperlihatkan praktik yang melampaui nalar manusia dan mencerminkan kemerosotan moral di kalangan elite negara-negara Barat.
Ia menggunakan istilah “deep state” atau yang menurutnya lebih tepat disebut “deep union” untuk merujuk pada jaringan kekuasaan tersembunyi yang ia klaim berupaya mengendalikan Barat dan dunia.
“Topik ini adalah tentang mengungkap wajah sebenarnya dari apa yang disebut Barat kolektif, yang mencoba memerintah seluruh dunia,” kata Lavrov dilansir dari Antara, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, apa yang terungkap dalam dokumen tersebut, menurut pandangannya, berada di luar logika manusia dan merupakan bentuk “satanisme murni”.
Komentar Lavrov muncul di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Rusia dan negara-negara Barat, serta perdebatan global mengenai transparansi, akuntabilitas, dan pengaruh elit dalam sistem internasional.
Kasus Epstein sendiri bermula pada 2019, saat ia didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas perdagangan seks anak di bawah umur serta konspirasi terkait kejahatan tersebut. Epstein menghadapi ancaman hukuman penjara lebih dari 40 tahun.
Penuntut menilai sejak 2002 hingga 2005, Epstein melakukan hubungan seksual dengan puluhan gadis di bawah umur di kediamannya di New York dan Florida. Ia juga diduga membayar korban secara tunai dan menugaskan beberapa dari mereka untuk merekrut gadis-gadis baru, beberapa di antaranya berusia 14 tahun.
Kasus Epstein telah menjadi sorotan internasional karena implikasi sosial, hukum, dan politiknya, termasuk diskusi mengenai bagaimana kekuatan dan pengaruh elit dapat memengaruhi sistem hukum dan masyarakat global. (ant/saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
