Selasa, 10 Februari 2026

Riyono Caping Peringatkan Negara Harus Serius Antisipasi Pasar Pangan Jelang Ramadhan 2026

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Riyono anggota Komisi IV DPR RI fraksi PKS. Foto: istimewa

Riyono Caping anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam mengendalikan harga dan ketersediaan pangan strategis menjelang Ramadhan 2026.

Hal tersebut disampaikannya terkait peran Perum Bulog menghadapi Hari Besar Keagamaan (HBK).

“Kondisi daya beli rakyat belum sepenuhnya pulih. Negara harus hadir menjaga stok dan harga pangan agar benar-benar berada dalam penguasaan negara,” kata Riyono dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Ia mengingatkan bahwa momen Ramadhan kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memainkan harga demi keuntungan sepihak. “Jangan lengah. Setiap HBK seperti Ramadhan sering dijadikan celah oleh pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan tanpa batas, dan ini harus dicegah,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam rapat kerja, Bulog memaparkan kondisi stok pangan nasional. Per awal Februari 2026, stok beras tercatat mencapai sekitar 3,2 juta ton. Sementara itu, produksi minyak goreng nasional baru terealisasi sekitar 20 persen dari target nasional sebesar 700 ribu ton.

Menurut Riyono, kondisi ini harus menjadi perhatian serius hingga mendekati hari pertama Ramadhan.

“Stok, distribusi, dan harga adalah kunci pengendalian pasar, baik di pasar modern maupun pasar tradisional. Daerah-daerah minus pangan harus menjadi prioritas distribusi agar tidak terjadi lonjakan harga,” ujarnya.

Riyono juga menekankan peran strategis Bulog sebagai regulator sekaligus pengendali harga di lapangan.

Ia meminta Bulog tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan stok, tetapi hadir aktif di tengah pasar rakyat. “Bulog harus mampu menjadi regulator yang kuat dan dirasakan langsung kehadirannya oleh masyarakat, bukan sekadar institusi logistik,” katanya.

Riyono menegaskan bahwa pangan merupakan sektor strategis yang wajib dikuasai negara. Dia menolak keras adanya pihak-pihak di luar kendali negara yang mengatur harga pangan, terutama komoditas berbasis impor.

“Pangan harus dikuasai oleh negara. Tidak boleh ada oknum atau pihak mana pun yang mengendalikan harga di luar jangkauan negara. Produk impor harus dikawal ketat oleh Satgas Pangan,” ujar Riyono.

Ia juga mengingatkan agar negara tidak terjebak pada logika keuntungan dalam pengelolaan pangan. “Negara tidak boleh ikut mencari untung dari rakyat. Tugas negara adalah memberikan kepastian harga yang adil dan terjangkau,” tegasnya.

Riyono menjelaskan tiga kunci utama menjaga stabilitas harga pangan menjelang Ramadhan. Pertama, Bulog harus memastikan stok aman dan terdistribusi merata di seluruh wilayah Indonesia.

Kedua, Satgas Pangan perlu melakukan patroli rutin harian di pusat-pusat pasar tradisional. Ketiga, pemerintah harus memberikan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Bulog harus hadir di tengah pasar rakyat. Pastikan harga aman dan terkendali. Mitigasi kenaikan secara presisi, tutup celah pelanggaran dengan tegas demi kepentingan rakyat,” pungkas Riyono.(faz/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 10 Februari 2026
26o
Kurs