Sabtu, 21 Februari 2026

Trump Akan Temui Xi Jinping setelah Tarif Impor Dibatalkan Mahkamah Agung AS

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) ketika berjumpa Xi Jinping Presiden China pada 2017. Foto: The New York Times

Donald Trump Presiden Amerika Serikat dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Agenda tersebut menjadi sorotan global karena akan mempertemukan kembali pemimpin dua ekonomi terbesar dunia di tengah dinamika baru perang dagang.

Dilansir dari Reuters, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi rencana perjalanan itu pada Jumat (20/2/2025) waktu setempat. Hanya beberapa jam sebelum Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor Trump, termasuk sejumlah tarif terhadap China.

Pertemuan Trump dengan Xi Jinping Presiden China di Beijing diperkirakan berfokus pada upaya memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang selama ini menahan kedua negara dari eskalasi tarif lebih lanjut.

Sementara itu, putusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif berbasis International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) menimbulkan ketidakpastian baru dalam hubungan bilateral yang sebelumnya mulai stabil.

Tarif 20 persen atas ekspor China ke AS diberlakukan berdasarkan IEEPA, dengan alasan keadaan darurat nasional terkait distribusi fentanyl dan ketidakseimbangan perdagangan.

Namun, pengadilan menilai penggunaan undang-undang tersebut untuk kebijakan tarif melampaui kewenangan yang diatur.

Meski demikian, sejumlah bea masuk lain terhadap barang-barang China tetap berlaku, termasuk tarif yang diterapkan melalui Pasal 301 dan Pasal 232 dalam regulasi perdagangan AS.

Dalam konferensi pers terbaru, Trump menyatakan akan menggantikan kebijakan sebelumnya dengan tarif global baru sebesar 10 persen selama 150 hari.

Fokus Gencatan Senjata Perdagangan

Hubungan dagang Washington–Beijing sempat menunjukkan tanda-tanda pelonggaran setelah Trump memangkas tarif terhadap produk China sebagai imbalan atas langkah Beijing, termasuk penindakan terhadap perdagangan fentanyl ilegal dan penangguhan pembatasan ekspor mineral penting.

Namun, belum jelas apakah seluruh tarif sebelumnya akan dipulihkan atau diganti dengan skema baru.

“Itu akan menjadi kunjungan yang luar biasa,” kata Trump di Washington pada Kamis (19/2/2026). “Kita harus menampilkan pertunjukan terbesar yang pernah ada dalam sejarah China.”

Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya kunjungan ini dalam konteks geopolitik dan ekonomi global.

Kunjungan Bersejarah

Kunjungan terakhir Trump ke China berlangsung pada 2017 dan menjadi kunjungan terakhir presiden AS ke Beijing dalam hampir satu dekade terakhir.

Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan komentar resmi mengenai tanggal kunjungan tersebut. Pemerintah Beijing juga belum mengonfirmasi agenda perjalanan tersebut. (saf/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 21 Februari 2026
28o
Kurs