Minum kopi atau teh setiap hari ternyata berpotensi menurunkan risiko demensia dan memperlambat penurunan kognitif. Temuan ini berasal dari studi berskala besar yang dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi JAMA.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi berkafein per hari atau satu hingga dua cangkir teh berkafein dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsi kafein.
Penelitian dipimpin oleh Yu Zhang asisten peneliti di Divisi Kedokteran Jaringan Channing, Brigham and Women’s Hospital.
Ia dan tim menganalisis data dari 131.821 peserta yang tergabung dalam dua studi longitudinal besar, yakni Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.
Selama 43 tahun, para partisipan secara berkala melaporkan pola makan mereka serta menjalani evaluasi fungsi kognitif, termasuk penilaian risiko demensia.
“Banyak penelitian sebelumnya lebih singkat, atau hanya mengukur pola makan sekali,” kata Zhang dilansir dari laman Health.
“Yang berbeda di sini adalah kami memiliki data pola makan berulang dan masa tindak lanjut hingga 43 tahun, yang sangat berharga untuk penelitian demensia.”
Hasil analisis menunjukkan pria dan wanita yang mengonsumsi kopi berkafein dalam jumlah tertinggi, memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan asupan minimal atau tanpa kafein.
Efek serupa ditemukan pada peminum teh berkafein. Konsumsi satu hingga dua cangkir per hari dikaitkan dengan risiko demensia sekitar 15 persen lebih rendah. Namun, konsumsi di atas jumlah tersebut tidak menunjukkan manfaat tambahan yang signifikan.
Menariknya, kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan serupa dengan penurunan risiko demensia.
Nikhil Palekar Direktur Center of Excellence for Alzheimer’s Disease di Stony Brook Medicine, menilai durasi penelitian yang panjang memperkuat validitas temuan tersebut.
“Sungguh mengejutkan melihat temuan bahwa minum kopi tanpa kafein tidak terkait dengan penurunan risiko demensia,” ujarnya.
Bagaimana Kafein Melindungi Otak?
Secara biologis, kafein diyakini bekerja dengan memblokir reseptor adenosin di otak, yang berperan dalam peradangan dan komunikasi antar sel saraf.
Lynette Gogol ahli neurologi menjelaskan bahwa dalam studi laboratorium dan hewan pada penyakit Alzheimer, pemblokiran reseptor tersebut dikaitkan dengan berkurangnya penumpukan protein amiloid—protein yang banyak ditemukan pada otak pasien Alzheimer—serta peningkatan fungsi memori.
Selain itu, kafein juga dikaitkan dengan kesehatan pembuluh darah yang lebih baik, yang berpotensi menurunkan risiko demensia vaskular. Kafein bahkan disebut dapat meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga membantu mengurangi faktor risiko metabolik seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional, bukan kausal. Artinya, penelitian ini tidak membuktikan secara langsung bahwa kopi atau teh menyebabkan penurunan risiko demensia.
Faktor gaya hidup lain yang tidak terukur masih mungkin berperan dalam hasil tersebut. Selain itu, penelitian tidak membedakan jenis teh maupun metode penyeduhan kopi, yang bisa memengaruhi kandungan kafein dan antioksidan.
Bagi sebagian orang, konsumsi kafein berlebihan juga dapat memicu efek samping seperti kecemasan, gangguan tidur, dehidrasi, hingga gangguan irama jantung. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Namun bagi penikmat kopi dan teh yang dapat mentoleransi kafein dengan baik, konsumsi satu hingga tiga cangkir per hari dinilai masih dalam batas moderat dan dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan otak. (saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
