Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh menjadi salah satu area terdampak parah dalam tragedi banjir bandang yang melanda berbagai wilayah Sumatera pada akhir November 2025 silam.
Bencana itu melumpuhkan 12 kecamatan dan merusak sekitar 58.000 bangunan di kabupaten tersebut, termasuk Desa Banai yang rusak parah hingga saat ini.
Pantauan suarasurabaya.net di Desa Banai, Minggu (22/2/2026), hampir sebagian besar rumah warga rusak parah dan menyisakan endapan lumpur yang terlihat bekasnya hingga atap bangunan.
Banjir yang melanda wilayah ini ketinggiannya hampir menyentuh atap rumah. Kemudian di sepanjang jalan desa, terlihat beberapa tenda darurat dari BNPB di pekarangan rumah maupun di tepi jalan.
Tenda-tenda itu menjadi tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya belum bisa dihuni kembali. Aktivitas warga juga belum kembali normal dan sebagian besar masih bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Di salah satu titik, terlihat anak-anak sedang bermain di depan tenda pengungsian. Lalu perabotan rumah tangga seperti ember, pakaian dan perlengkapan sehari-hari nampak dijemur di sekitar tenda. Kondisi ini menandakan bahwa sebagian warga masih menunggu hunian sementara yang layak.

Selain itu juga terpantau beberapa bangunan rumah rusak pada bagian atap dan dinding. Terlihat ada atap seng yang terlepas dan tertekuk, serta dinding rumah yang masih memperlihatkan bekas rendaman air dan lumpur.
Akses jalan utama Desa Banai sudah bisa bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda tiga, meski di beberapa titik masih terlihat sisa endapan material lumpur bekas banjir di sisi jalan dan menyumbat saluran drainase.
Lingkungan sekitar dipenuhi lumpur yang mengering hingga menimbulkan retakan serta puing-puing kecil yang belum dibersihkan.
Zakariah salah satu masyarakat Desa Banai mengatakan, pascabanjir bandang yang menerjang desanya pada akhir November 2025 lalu membuat aktivitas warga belum sepenuhnya normal.
Mayoritas warga Desa Banai yang bekerja sebagai petani karet dan sawit kesulitan mencari pekerjaan karena lahan mereka yang rusak. “Orang-orang masih kesulitan mencari kerja, karena mayoritas di sini mereka menjadi petani pohon karet dan sawit,” ujarnya.
Selama ini, kata Zakariah, warga bisa bertahan hidup hanya mengandalkan bantuan makanan dan minuman dari para dermawan. Dia menyebut, ada sekitar 600 ribu warga desa yang menjadi penyintas korban banjir bandang. Tragedi tersebut juga tidak sedikit menelan korban jiwa dari warga desa Banai.
Saat ini warga desa berharap, keberadaan rumah hunian sementara (Huntara) yang layak. Sebab mereka pernah dijanjikan pemerintah bakal dibangunkan Huntara dan sudah tersedia saat bulan Ramadan.
“Saat itu dijanjikan sudah selesai dibangun saat Ramadan, mungkin nanti kami berharap bisa dibangun sebelum Idulfitri,” ujarnya.(wld/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
