Senin, 23 Februari 2026

Pakde Karwo Mantan Gubernur Jatim Soroti Babak Baru Perekonomian Indonesia

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo Mantan Gubernur Jawa Timur. Foto: Istimewa

Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo Mantan Gubernur Jawa Timur (Jatim) menyoroti perekonomian Indonesia yang memasuki babak baru di tengah ketidakpastian global.

Menurut Pakde Karwo, tahun 2025 kemarin menjadi penanda penting ketika ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi nasional dan investasi masih bekerja.

“Angka ini bukan hanya menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, tetapi juga mencerminkan mesin konsumsi dan investasi nasional masih bekerja relatif baik,” ujar Pakde Karwo dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).

Pakde Karwo menilai pertumbuhan ekonomi tersebut lebih baik dibanding sejumlah kawasan besar dunia dalam periode yang sama.

Selain dari itu, Indonesia juga mencatat tonggak sejarah baru ketika Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita untuk pertama kalinya menembus angka 5.000 dolar AS per tahun.

“Ini menandai bahwa struktur ekonomi nasional sedang bergerak menuju fase yang lebih matang dan berpotensi memperluas kelas menengah,” ungkapnya.

Namun, di balik capaian makro tersebut, Pakde Karwo menyoroti apakah pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan rata-rata tersebut dapat dirasakan masyarakat. Dia menyatakan, kondisi itu menjadi indikator melihat daya beli rakyat yang lebih substantif daripada sekadar angka pertumbuhan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2019–2024 itu menjelaskan, daya beli masyarakat merupakan cerminan kemampuan ekonomi rumah tangga. Ketika daya beli menguat, maka konsumsi meningkat, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja terbuka.

“Sebaliknya, ketika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi terpentingnya, yaitu permintaan domestik,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman berbagai negara, lanjut Pakde Karwo, bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak sejalan dengan penguatan daya beli hanya menghasilkan kemajuan semu. “Statistik makro membaik, tetapi kesejahteraan riil masyarakat berjalan lambat,” tuturnya.

Oleh karenanya, Mantan Gubernur Jatim itu menyatakan bahwa menjaga pertumbuhan ekonomi 5,11 persen harus dipahami sebagai momentum yang perlu dijaga. Yakni dengan menjalankan kebijakan untuk memperkuat daya beli masyarakat.

Pencapaian PDB per kapita di atas 5.000 dolar AS juga membawa konsekuensi baru. Secara ekonomi, capaian ini menandai pergeseran struktur konsumsi masyarakat.

Rumah tangga tidak lagi hanya membelanjakan pendapatan untuk kebutuhan dasar, tapi mulai meningkatkan konsumsi barang dan jasa.

“Negara tidak cukup berfungsi sebagai penjaga stabilitas makro, tetapi harus hadir aktif melalui kebijakan publik yang berpihak pada rakyat,” ungkapnya.(wld/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 23 Februari 2026
24o
Kurs