Minggu (22/2/2023), Badr Albusaidi Menteri Luar Negeri Oman menyebutkan bahwa Iran dan Amerika Serikat (AS) akan mengadakan pertemuan ketiga pada hari Kamis (26/2/2026) di Jenewa.
Pertemuan tersebut akan membahas persoalan nuklir di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik militer antara dua negara itu.
“Dengan senang hati saya konfirmasikan bahwa negosiasi AS-Iran kini dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada hari Kamis ini, dengan upaya positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan,” kata Badr Albusaidi sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Melansir Reuters, Iran menawarkan konsesi terbaru tentang program nuklirnya untuk mencapai kesepakatan dengan syarat pencabutan sanksi ekonomi dan pengakuan hak Teheran untuk pengayaan nuklir secara damai.
Kehadiran militer AS di wilayah Timur Tengah bertambah seiring adanya peringatan dari Donald Trump Presiden.
Ia mengatakan bahwa hal-hal buruk bisa terjadi jika tidak ada kesepakatan yang tercapai pada konflik tentang program nuklir Teheran.
Steve Witkoff, utusan khusus Trump Presiden yang memimpin negosiasi nuklir pada pihak AS, mengatakan bahwa Presiden AS penasaran mengapa Iran belum menyerah dan setuju dalam pembatasan program nuklirnya.
“Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrasi,’ karena dia mengerti bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum… Saya tidak ingin menggunakan kata ‘menyerah,’ tetapi mengapa mereka belum menyerah,” kata Witkoff.
“Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’? Namun, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu,” lanjutnya.
Abbas Araqchi Menteri Luar Negeri Iran menanggapi hal tersebut dalam sebuah unggahan di akun X miliknya, mengatakan: “Penasaran mengapa kami tidak menyerah? Karena kami adalah orang Iran.”
Ia juga mengatakan pada sebuah wawancara bahwa solusi diplomatik dengan AS masih mungkin tercapai.
Tahun lalu, Iran dan AS telah melaksanakan pembicaraan tidak langsung yang tidak menghasilkan kesepakatan apapun.
Hal tersebut juga dipicu karena adanya benturan tentang tuntutan AS agar Iran berhenti melakukan pengayaan uranium di wilayahnya yang dianggap sebagai jalan untuk menuju bom nuklir.
Iran membantah dugaan tersebut, menegaskan mereka tidak melakukan upaya untuk mendapatkan senjata macam itu.
AS kemudian bergabung dengan Israel dalam misi penyerangan situs nuklir Iran pada bulan Juni, yang membatasi pengayaan uranium Iran.
Trump menyatakan situs-situs nuklir utama milik Iran telah dimusnahkan, tetapi masih diyakini bahwa Iran memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya sebelumnya.
“Mereka telah melakukan pengayaan uranium jauh melampaui jumlah yang dibutuhkan untuk senjata nuklir sipil. Tingkat kemurnian fisilnya mencapai 60 persen. Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki material pembuatan bom kelas industri, dan itu sangat berbahaya,” kata Witkoff.
Konsesi baru yang dipertimbangkan Iran termasuk pengiriman ke luar negeri setengah dari uranium yang diperkaya sambil mengurangi kadar uranium yang tersisa.
Pembicaraan di luar isu nuklir mengenai program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah telah diupayakan, tetapi Iran menolaknya secara terbuka.
Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Iran masih membuka negosiasi mengenai dukungannya pada kelompok bersenjata, meskipun mereka tetap tidak akan berkompromi pada masalah persenjataan rudal miliknya.
Topik lainnya adalah cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi terhadap Iran, di mana Iran dan AS masih memiliki pandangan berbeda terkait isu ini.
Witkoff mengatakan atas arahan Trump, ia bertemu dengan Reza Pahlavi, tokoh oposisi Iran yang merupakan putra Shah yang digulingkan dalam Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Pahlavi berperan sebagai tokoh penggerak bagi sebagian oposisi Iran selama demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu yang diduga menewaskan ribuan orang.
Pada awal Februari, Pahlavi mengatakan intervensi militer AS di Iran dapat menyelamatkan nyawa rakyat Iran.
Ia mendesak Washington untuk segera mencapai kesepatakan nuklir dengan penguasa ulama Teheran. (vve/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
