Banjir bandang yang melanda berbagai wilayah Sumatera masih menyisakan sederet persoalan selama fase pemulihan. Kini masyarakat yang rumahnya luluh lantak disapu banjir berharap segera mendapat hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara).
Tidak sedikit penyintas banjir bandang yang belum mendapatkan hunian layak. Selama empat bulan pascabencana ini, mereka hidup di tenda pengungsian dan bangunan semi permanen.
Masalah hunian layak itu diutarakan Susan warga Desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Rumahnya tersapu habis saat banjir menenggelamkan kampungnya pada akhir November 2025 silam.
Desa Lintang Bawah jadi area dengan kerusakan terparah. Ratusan rumah rusak dan ribuan keluarga hidupnya masih terkatung-katung.
Kini, Susan bersama suami dan dua anaknya itu tinggal di tenda pengungsian yang berdiri di bantaran Sungai Tamiang dekat lahan rumahnya yang tersapu habis.
Tenda yang rentan apabila terkena angin dan simpul talinya mudah lepas. Hidup Susan semakin diuji saat panas matahari menembus tenda miliknya yang berukuran sekitar 4,5 x 4,5 meter itu. Kondisi serba keterbatasan itu masih ia rasakan hingga Ramadan ini.
“Ini sampai sekarang masih tinggal di tenda puasa seperti ini. Kayak mana coba panasnya, kan? Putus-putus talinya,” ucap Susan saat ditemui di dapur umum Kota Lintang Bawah, Senin (23/2/2026).
Di sela sela operasi SAR beberapa waktu silam, warga Lintang Bawah pernah mendengar janji dari pemerintah akan mendapat hunian layak berupa Huntap hingga Huntara tergantung tingkat kerusakannya.
“Katanya dapat huntap (yang rumahnya rusak parah). Itu secepatnya katanya diganti (Huntap), dijanjikan sudah, tapi ya kayak ini. Janji-janji saja, kan?” ucapnya.
Kini Susan hanya bertahan hidup di tenda berukuran sedang bersama keluarga kecilnya. Hari-harinya akan lebih disibukkan di dapur umum untuk saling menjaga asa bersama penyintas lainnya. Sebab bertahan di tengah kerapuhan tak bisa sebatang kara.
“Kita ya berharap semoga dapat tempat tinggal yang lebih layak,” jelasnya.
“Beruntungnya kita ada dapur umum macam ini. Jadi kami bisa berkumpul, tidak merasa susah sendirian,” sambungnya.
Persoalan serupa juga dialami, Zakariah warga Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Ratusan warga terpaksa harus tinggal di tenda karena rumah mereka mengalami rusak kategori sedang.
Zakariah menyebut, pemerintah sempat menjanjikan Huntara sudah dibangun sebelum Ramadan.
“Dijanjikan, tapi tidak segera. Memang dijanjikan ada Huntara. Cuma sampai sekarang memang belum. Jadi masyarakat terpaksa tinggal di tenda,” katanya.
Dia menyebut, pemerintah akan berjanji merealisasikan huntara sebelum idulfitri. Janji tersebut masih dinanti sampai saat ini.
“Pertama dijanjikan sebelum Ramadan, nanti dijanjikan sebelum Lebaran sekitarnya,” tuturnya. (wld/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
