Rabu, 25 Maret 2026

Tiket Piala Dunia 2026 Mahal, FIFA Dituding Monopoli Penjualan

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Trofi Juara Piala Dunia FIFA. Foto: Harold Cunningham/FIFA

Sejumlah kelompok penggemar sepak bola Eropa resmi mengadukan FIFA ke Komisi Eropa terkait kebijakan harga tiket Piala Dunia FIFA 2026 yang dinilai tidak adil dan merugikan konsumen.

Pengaduan tersebut diajukan oleh Football Supporters Europe (FSE) bersama Euroconsumers.

Keduanya menuding FIFA menyalahgunakan posisi dominannya dalam penjualan tiket dengan menerapkan harga yang dinilai berlebihan.

Dalam pernyataan bersama, FSE dan Euroconsumers menyebut FIFA memiliki monopoli penuh atas distribusi tiket Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

“FIFA memegang monopoli atas penjualan tiket Piala Dunia 2026 dan telah menggunakan kekuasaan itu untuk memaksakan persyaratan kepada penggemar yang tidak akan pernah dapat diterima di pasar yang kompetitif,” demikian isi pernyataan tersebut.

Dilansir dari ESPN, kontroversi mencuat sejak penjualan tiket dibuka pada Desember lalu. Saat itu, harga tiket fase grup dipatok mulai sekitar 140 dolar AS, sementara tiket final mencapai 8.680 dolar AS. Bahkan, kategori tiket final termurah dibanderol lebih dari 4.000 dolar AS.

FIFA juga untuk pertama kalinya menerapkan sistem penetapan harga dinamis, yang membuat harga tiket dapat berubah tergantung permintaan pasar. Kebijakan ini menuai kritik karena dianggap mendorong lonjakan harga yang tidak terkendali.

Menanggapi tekanan publik, FIFA sempat menurunkan sebagian harga tiket menjadi sekitar 60 dolar AS untuk kategori tertentu yang dialokasikan kepada suporter setia masing-masing tim. Namun, jumlahnya hanya sekitar 10 persen dari total tiket yang tersedia per pertandingan.

FSE juga menyoroti praktik penjualan yang dinilai menekan konsumen serta kurangnya transparansi dalam proses distribusi tiket. Mereka meminta FIFA menghentikan skema harga dinamis, khususnya untuk pasar Eropa, serta membekukan harga pada tahap penjualan berikutnya.

“Penetapan harga dinamis mengubah loyalitas penggemar menjadi perang penawaran, menaikkan biaya tanpa nilai tambah, dan mengucilkan banyak pendukung,” ujar Els Bruggeman kepala kebijakan dan penegakan hukum di Euroconsumers.

Selain itu, kritik juga diarahkan pada platform penjualan ulang resmi FIFA yang disebut memungkinkan tiket dijual jauh di atas harga awal. Dalam skema tersebut, FIFA disebut mengambil komisi hingga 30 persen dari setiap transaksi.

Ronan Evain Direktur Eksekutif FSE menilai kebijakan tersebut membuat penggemar tidak memiliki pilihan selain membeli dengan harga tinggi atau kehilangan kesempatan menyaksikan langsung pertandingan.

“FIFA mengacu pada angka penjualan yang belum dikonfirmasi sebagai pembenaran atas praktik penjualan tiket yang tidak adil, sementara kenyataannya mereka tidak memberi pilihan lain kepada penggemar setia — membayar atau kehilangan kesempatan,” kata Evain.

Sementara itu, Gianni Infantino Presiden FIFA sebelumnya menyatakan bahwa permintaan tiket untuk Piala Dunia 2026 sangat tinggi, bahkan diibaratkan setara dengan “1.000 tahun Piala Dunia sekaligus”. Ia juga memperkirakan seluruh 104 pertandingan akan terjual habis.

Menanggapi polemik tersebut, FIFA menyatakan belum menerima pengaduan resmi yang dimaksud. Organisasi itu menegaskan bahwa sebagai lembaga nirlaba, seluruh pendapatan dari Piala Dunia akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola global. (saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Rabu, 25 Maret 2026
31o
Kurs