Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur menyiapkan tiga langkah strategis untuk menghadapi kemarau panjang dan menjaga hasil produksi padi.
Diketahui Indonesia akan dilanda fenomena Godzila El Nino yang terjadi pada periode April sampai Oktober 2026. Fenomena ini diprakirakan memicu terjadinya kemarau panjang dan berpotensi berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Heru Suseno Kepala DPKP Provinsi Jatim menyatakan pihaknya telah menyiapkan tiga langkah strategis untuk menghadapi fenomena tersebut.
Pertama adalah menanam benih tanah kekeringan. Yakni mendistribusikan benih varietas unggul yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem.
Kemudian mengaktifkan kembali pompa-pompa yang dibangun Pemprov Jatim tahun lalu serta menambah titik pompa baru di wilayah kritis.
Selanjutnya yang ketiga adalah perbaikan irigasi. Heru menegaskan percepatan renovasi jaringan irigasi yang rusak sangat penting supaya distribusi air lebih efisien dan tepat sasaran.
”Pompa-pompa harus siap sedia. Daerah yang tadah hujan memang berat, tapi kalau ada sumber air terdekat, kita pasang pompa agar produksi pangan tidak terganggu,” kata Heru ketika dikonfirmasi pada Senin (30/4/2026).
Kemudian Heru menyebut sejumlah wilayah pertanian di Jatim perlu mendapatkan perhatian khusus terutama daerah yang bergantung pada pengairan lahan seperti Bojonegoro, Jember hingga Lamongan.
“Daerah dengan ketergantungan tinggi pada air hujan seperti Bojonegoro, Jember, dan Lamongan. Ketiga daerah itu masuk radar pemantauan serius karena memiliki titik-titik lahan tadah hujan yang luas dengan sumber air minimum,” ujarnya.
Meski sektor pertanian menjadi perhatian serius saat musim kemarau, Heru mengklaim tren produksi padi di Jatim menunjukkan grafik positif pada awal tahun.
Saat ini sejumlah wilayah mulai memasuki masa panen meski belum mencapai puncaknya. Luas tambah tanam per harinya juga terus meningkat.
Heru mengatakan pada Februari lalu, panen mencapai 5000 hektare, kemudian memasuki bulan Maret luasnya mencapai 9000 hektare.
Dia mengatakan, hasil produktivitas rata-rata panen mencapai 6 ton per hektare. Jika dikalkulasikan, maka potensi hasil panen harian diproyeksi mencapai 54 ribu ton.
“Angka ini diprediksi terus meroket hingga April dan Mei mendatang. Puncaknya nanti bisa tembus 120.000 ton saat panen raya,” kata Heru.
Diberitakan sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengatakan sejumlah wilayah di Jatim mulai menghadapi kekeringan lebih awal seperti di Kabupaten Tuban.
Kondisi kekeringan tersebut, diprediksi bakal meningkat pada Mei hingga mencapai puncak pada Agustus 2026. Khofifah menegaskan bahwa fenomena kekeringan menjadi perhatian serius sebab Jatim merupakan lumbung pangan nasional.
Untuk itu pihaknya melakukan koordinasi bersama stakeholder terkait untuk menyiapkan langkah strategis guna menjaga produksi pertanian yang bergantung pada ketersediaan air.
“Menyiapkan sumur-sumur dalam untuk irigasi sawah menjadi penting agar indeks pertanaman tidak turun, karena ketahanan pangan adalah kebutuhan nasional,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026). (wld/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
