Serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, membuat Iran memblokir Selat Hormuz, jalur penting bagi transportasi minyak global.
Hal inilah yang menyebabkan gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak mentah.
Untuk mengatasi dampak eskalasi Timur Tengah, kelompok tujuh negara industri maju (G7) akan menggelar pertemuan secara virtual atau daring pada Senin (30/3/2026) waktu setempat.
Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas sejumlah agenda, termasuk tambahan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi, yang saat ini tengah dipertimbangkan oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Adapun sejumlah pejabat penting seperti menteri keuangan, menteri energi, dan gubernur bank sentral juga akan terlibat dalam pertemuan daring ini.
Pada awal bulan Maret 2026, IEA mulai melepaskan cadangan minyak mereka yang totalnya melebihi 400 juta barel. Upaya tersebut merupakan langkah bersama pertama sejak tahun 2022 ketika Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.
Melansir dari Antara, dari total produksi minyak yang dikoordinasikan oleh IEA tersebut, sebanyak 79,8 juta barel berasal dari Jepang, negara terbesar kedua di antara anggota IEA setelah Amerika Serikat yang menyumbang 172,2 juta barel, menurut data IEA.
Jepang sendiri bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya.
Para menteri keuangan G7 telah mengadakan pembicaraan pada 9 Maret dan disusul oleh pertemuan menteri energi keesokan harinya, dengan kesepakatan untuk “siap” mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Dipimpin oleh Prancis tahun ini, G7 juga terdiri dari Inggris, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, serta Uni Eropa. (ant/ily/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
