Psikolog membagikan sejumlah strategi bagi orang tua untuk menangani anak yang mengalami kecanduan media sosial (medsos) hingga memicu ledakan emosi atau tantrum.
Menurut Eka Renny Yustisia psikolog, paparan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan, seperti dopamin instan, sehingga menghentikan aktivitas digital secara mendadak dapat memicu reaksi emosional berlebihan.
“Kondisi ini menjadi tantangan serius karena anak yang tiba-tiba dihentikan dari media sosial cenderung menunjukkan perilaku seperti gejala putus zat, mulai dari marah, menangis, hingga sulit dikendalikan orang tua,” kata Eka dilansir dari Antara pada Senin (30/3/2026).
Dia juga menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku negatif.
“Tunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan lebih tenang. Terapkan teknik transisi dengan memberikan batas waktu secara bertahap sebelum anak berhenti menggunakan gawai,” ujarnya.
Selain itu, penerapan aturan detoks digital dalam keluarga menjadi langkah penting. Orang tua dan anak disarankan membuat kesepakatan bebas layar pada waktu tertentu, menciptakan konsistensi dan keteladanan dalam penggunaan perangkat digital.
Eka juga menekankan pentingnya mengganti aktivitas digital dengan kegiatan fisik atau permainan interaktif yang menyeimbangkan kondisi emosional anak, sekaligus mengawasi jenis konten yang dikonsumsi agar tidak menimbulkan stimulasi berlebihan.
“Pendekatan tepat dan konsisten akan membantu anak mengelola emosi sekaligus membentuk kebiasaan penggunaan media sosial yang lebih sehat,” katanya. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
