Sabtu, 4 April 2026

Kadin: Ocean Rate Pengiriman Barang Naik Tiga Kali Lipat Akibat Perang Iran-AS

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Kapal-kapal kargo di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, Uni Emirat Arab pada tanggal 11 Maret. Foto: Reuters

Perang antara Iran dan Amerika Serikat yang didukung Israel dinilai mengganggu aktivitas ekonomi di Timur Tengah, terutama di kawasan Teluk. Mohamad Bawazeer Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengatakan situasi keamanan menjadi faktor kunci agar perdagangan di kawasan tersebut dapat kembali berjalan normal.

“Saya sarankan kalau daerah Teluk ini aman terhadap serangan-serangan, maka otomatis perdagangan lebih enak,” ujar Bawazeer dalam keterangannya di Jakarta, yang dirilis Antara, Sabtu (4/4/2026).

Menurut dia, eskalasi konflik telah memukul rantai pasok dan distribusi barang di Timur Tengah. Salah satu dampak yang paling terasa ialah kenaikan ocean rate atau tarif dasar pengiriman barang internasional lewat laut hingga sekitar tiga kali lipat. Di sisi lain, sejumlah perusahaan pelayaran disebut belum berani mengeluarkan nomor booking karena memilih menunggu perkembangan situasi perang.

Bawazeer menjelaskan, sebagian kapal kini menghindari jalur Bab-el-Mandeb di Laut Merah dan memilih memutar lewat Benua Afrika sebelum masuk ke Terusan Suez, Mesir. Perubahan rute itu membuat waktu pengiriman membengkak hingga dua bulan, padahal dalam kondisi normal barang bisa tiba di Pelabuhan Dammam dan Jeddah dalam 15 sampai 20 hari.

Gangguan juga terjadi di Pelabuhan Jabal Ali. Ribuan kontainer dilaporkan tertahan karena tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz, kecuali bagi kapal tertentu yang mendapat persetujuan dari otoritas setempat. Kondisi tersebut, kata Bawazeer, berdampak langsung pada dunia usaha di Arab Saudi, baik untuk produk jadi maupun bahan baku bagi perdagangan dan industri. Akibatnya, harga barang diperkirakan ikut naik.

“Jadi sebenarnya kondisi ini disebabkan kondisi-kondisi peperangan yang tidak jelas begitu,” kata Bawazeer.

Sebelumnya, Budi Santoso Menteri Perdagangan juga menyebut eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran berpotensi menekan sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan energi dan biaya logistik. Menurut dia, dampak paling besar akan terasa bila distribusi minyak global terganggu, termasuk jika terjadi penutupan Selat Hormuz.

Budi menilai sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan karena industri pengolahan di Indonesia sangat bergantung pada energi untuk menjalankan proses produksi. Kenaikan biaya operasional berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global. Selain itu, sektor ekspor juga dibayangi tekanan ganda berupa kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi.(ant/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Sabtu, 4 April 2026
32o
Kurs