Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur menggelar seminar bertajuk Peran Perempuan dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN), Jumat (10/4/2026).
Seminar yang menyorot peran perempuan dalam era digital tersebut tidak hanya membahas soal literasi digital, namun juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan teknologi.
Eko Pamuji Wakil Direktur UKW PWI Pusat, mengatakan tren affiliate marketing di era saat ini bisa menjadi salah satu cara menghasilkan cuan.
“Sekarang marketing digital itu lagi tren dan bisa menghasilkan cuan tanpa harus punya produk sendiri, tidak perlu mengurus komplain atau distribusi,” ujar Eko ketika menyampaikan materi di di Aula Gedung Wartawan PWI Jatim, Surabaya, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, untuk terjun ke dunia affiliate marketing, masyarakat cukup memiliki akun di platform digital seperti marketplace atau media sosial, serta rekening bank untuk menerima hasil transaksi.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun konten dan kepercayaan audiens.
Selain peluang ekonomi, Eko juga mengingatkan pentingnya sikap skeptis terhadap informasi di ruang digital. Menurutnya, pengguna internet harus membiasakan diri untuk tidak langsung mempercayai setiap informasi yang diterima.
“Kita harus ragu terhadap setiap informasi yang masuk, itu penting untuk menghindari hoaks,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber selanjutnya, yakni Sri Untari Bisowarno Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, menyoroti kasus kejahatan digital yang menyasar perempuan dan anak.
Ia mengungkapkan berbagai bentuk kejahatan seperti penipuan, love scamming, hingga eksploitasi anak yang kerap berawal dari interaksi di media sosial.
“Banyak kasus terjadi karena anak-anak belum punya literasi digital yang cukup. Mereka mudah percaya, padahal pelaku sering berasal dari lingkungan terdekat,” ujarnya.
Untari juga menyampaikan dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol terhadap kondisi psikologis anak. Ia menyebut fenomena “generasi stroberi” sebagai gambaran anak-anak yang cenderung rapuh akibat tekanan digital dan rendahnya literasi.
Ia pun mendorong peran aktif orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget, termasuk membatasi pemberian ponsel pada anak.
Di sisi lain, Putut Darmawan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jatim, menegaskan pentingnya penguatan literasi digital di tingkat keluarga.
Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama dalam membentuk kemampuan anak dalam menyaring informasi.
“Orang tua adalah pionir dalam keluarga. Literasi digital harus dimulai dari rumah,” katanya.
Putut turut mengungkapkan pemerintah telah menerapkan regulasi untuk membatasi akses platform digital bagi anak di bawah usia tertentu, guna mengurangi paparan konten berisiko.
Selain itu, Diskominfo Jatim juga menyediakan layanan verifikasi informasi melalui aplikasi klinikhoaks.jatimprov.go.id untuk membantu masyarakat mengecek kebenaran informasi.
“Setiap informasi yang diterima sebaiknya disaring dulu sebelum dibagikan. Jangan langsung diteruskan,” tegasnya.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Arumi Bachsin Emil Dardak Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jatim sebagai keynote speaker serta Eko Pamuji Wakil Direktur UKW PWI Pusat, Sri Untari Bisowarno Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jatim, dan Putut Darmawan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jatim.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital secara bijak, baik untuk meningkatkan kualitas hidup maupun menghindari berbagai risiko yang mengintai di ruang digital.(mar/wld/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
