Sabtu, 11 April 2026

Erdogan: Hukuman Mati untuk Warga Palestina Buat Israel Tak Berbeda dengan Nazi Hitler

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki pada Selasa (31/12/2024) menegaskan komitmen Turki untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Suriah, perbatasan negaranya, dan wilayah Palestina dalam pesan Tahun Baru. Foto: Antara

Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki mengecam keras keputusan parlemen Israel atau Knesset yang memberlakukan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Ia menyebut kebijakan tersebut tidak berbeda dengan praktik Nazi di era Adolf Hitler.

Dalam pidatonya di forum International Conference of Asian Political Parties (ICAPP) Women’s Wing, Erdogan menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi dan rasisme yang semakin memperburuk situasi di kawasan.

“Apakah ada perbedaan mendasar antara kebijakan mengerikan Hitler terhadap orang Yahudi dan keputusan yang diambil parlemen Israel dengan penuh kebanggaan? Semua ini adalah manifestasi baru dari kebijakan penyangkalan, penghancuran, penindasan, dan eksekusi politik terhadap rakyat Palestina,” tegas Erdogan seperti dikutip kantor berita Anadolu, Jumat (10/4/2026).

Ia juga menyebut pemberlakuan hukuman mati yang hanya ditujukan kepada warga Palestina sebagai bentuk apartheid atau rasial dan supremasi kulit putih.

“Ini adalah diskriminasi, ini adalah rasisme. Ini berarti menerapkan versi yang lebih buruk dari rezim apartheid yang pernah runtuh di Afrika Selatan pada 1994,” ujarnya.

Menurut Erdogan, kebijakan tersebut menjadikan hukum sebagai alat “fasisme rasis” yang memperdalam ketidakadilan terhadap rakyat Palestina.

Dalam kesempatan itu, Erdogan juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut perempuan dan anak-anak menjadi korban terbesar dalam berbagai konflik, termasuk di Gaza, Suriah, Iran, dan Lebanon.

“Sebagian besar dari lebih dari 72.000 warga sipil yang tewas secara kejam di Gaza adalah perempuan dan anak-anak,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa serangan udara di Iran, termasuk terhadap sebuah sekolah di Minab, telah menewaskan lebih dari 165 anak-anak tak bersalah.

Sementara di Lebanon, Erdogan menyebut dampak serangan Israel sangat besar, dengan lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi sejak awal Maret, serta ribuan korban jiwa dan luka-luka.

“Jaringan genosida ini, yang dibutakan oleh darah dan kebencian, terus membunuh perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah,” ujarnya. (bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Sabtu, 11 April 2026
32o
Kurs