Survei terbaru Sun Life Perusahaan penyedia jasa keuangan menunjukkan 57 persen dari 142 juta perempuan Indonesia pernah mengabaikan kesehatan mereka demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarganya.
Di balik kontribusinya dalam mengelola rumah tangga untuk memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, banyak perempuan harus menanggung tiga beban sekaligus atau triple penalty, hambatan dalam berkarier, menjaga kesehatan, dan menjaga kesehatan finansial.
Dalam menjaga kesehatan, hal ini bertolak belakang dari pernyataan Pinky Saptandari Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS/BK3S) Provinsi Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Kadin Jatim Bidang Pemberdayaan Perempuan yang mengatakan bahwa perempuan justru lebih tekun dalam menjaga kesehatan diri daripada laki-laki.
“Buktinya pada tingkat harapan hidupnya, tingkat kesehatannya lebih prima karena lebih peduli dan juga tingkat harapan hidup perempuan masih lebih tinggi daripada laki-laki. Ini kan kaitannya dengan menjaga kesehatan, kebugaran, pola makan, olahraga dan sebagainya,” terangnya dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya.

Sementara dalam menjaga finansial, Pinky menjelaskan bahwa hal ini menjadi hambatan sekaligus menjadi peluang untuk menghadapi tantangan dalam dinamika kehidupan.
“Biasanya kaum perempuan ini yang banyak sekali mengambil peluang itu untuk kaitannya dengan finansial, karir itu misalnya tergabung dalam organisasi-organisasi seperti IWAPI, seperti organisasi UMKM, dan sebagainya,” ujarnya saat onair di Suara Surabaya FM100.
Untuk memenuhi dua kebutuhan tersebut tidaklah mudah. Ketum BK3S Surabaya itu mengimbau para perempuan untuk mengikuti ajaran R.A. Kartini melalui pendidikan dari rumah.
“Sekolah saja tidak cukup kata beliau, tapi rumah pun harus mendidik. Mendidik untuk melek angka, mendidik untuk sehat, mendidik untuk peduli pada sesama, peduli lingkungan dan sebagainya,” ucap Pinky.
Ia meyakini bahwa profesi-profesi saat ini memiliki sosok ibu yang hebat di baliknya.
“Saya yakin yang sekarang sukses menjadi guru besar, menjadi apapun profesinya, penyiar, itu punya ibu-ibu yang hebat yang mengajarkan bahwa berorganisasi, meningkatkan pendidikan, tidak harus formal, itu akan menjadi bekal kita untuk berdaya, untuk mandiri, dan juga bisa meraih emansipasi yang menjadi cita-cita Ibu Kartini,” ujarnya lagi.
Dalam rangka peringatan hari Kartini, Pinky mengimbau masyarakat untuk meneladani sifat pahlawan wanita asal Jepara itu, mengingat karya-karyanya menjadi inspirasi para tokoh nasional untuk membuat gerakan kebangkitan nasional.
“Jadi mestinya bagi kaum perempuan juga harus demikian inspirasinya tidak hanya pada kebaya, terus memperingati Hari Kartini dengan sifat-sifat yang kewanitaan itu bagus, tapi juga pikiran-pikiran beliau yang kalau dilihat tahun beliau hidup itu melampaui batas waktu,” tandasnya.(ily/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
