Sabtu, 20 Juni 2026

Diabetes Bisa Picu Serangan Jantung Diam-Diam, Dokter Ingatkan Pasien Rutin Periksa

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Seminar kesehatan tentang serangan jantung pada penderita diabetes di RS Siloam Surabaya, pada Sabtu (20/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Jumlah penderita diabetes di Jawa Timur masih tinggi dan berisiko memicu komplikasi serius pada organ vital, terutama jantung dan ginjal. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2023, estimasi penderita diabetes usia 15 tahun ke atas mencapai 854.454 orang. Sementara di Surabaya, jumlah pasien diabetes tercatat sebanyak 104.363 orang.

Prof. Yudi Her Oktaviono, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, mengatakan kondisi itu menjadi perhatian kalangan medis karena komplikasi diabetes kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. Bahkan, bisa berujung pada serangan jantung meski tanpa keluhan khas seperti nyeri dada.

“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan faktor risiko tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa sehat,” katanya dalam Health Talk Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) dan Siloam Hospitals Surabaya bertajuk “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes” di Surabaya, pada Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang bisa merusak saraf yang mengirimkan sinyal nyeri. Akibatnya, penyumbatan pada pembuluh darah koroner bisa terjadi tanpa disadari pasien.

Selain itu, diabetes juga mempercepat aterosklerosis atau penumpukan plak di dinding pembuluh darah akibat kolesterol jahat (LDL-C). Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyempitan hingga penyumbatan pembuluh darah yang dapat berujung pada serangan jantung maupun stroke.

Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, menambahkan bahwa ancaman komplikasi diabetes tidak hanya menyerang jantung, tetapi juga memiliki risiko kerusakan ginjal.

“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap, seperti filter yang aus seiring waktu. Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal, pemeriksaan ginjal sebaiknya dilakukan secara proaktif, bukan menunggu sampai muncul gejala,” ucapnya.

Ia mengatakan, pasien diabetes perlu rutin menjalani tiga pemeriksaan penting, yakni HbA1c untuk memantau kontrol gula darah, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine, dan eGFR guna menilai kemampuan ginjal menyaring darah.

Dokter Maria Magdalena Padmidewi, Direktur RS Siloam Surabaya menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci pencegahan komplikasi diabetes.

“Edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada penurunan kadar gula darah saja. Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa diabetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan kualitas hidup secara keseluruhan,” ucapnya.

Menurutnya, deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan menjadi langkah penting untuk menekan risiko komplikasi yang bisa menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.

Baik In-hyun, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division menekankan bahwa terapi untuk membantu pasien diabetes mengelola risiko kardiovaskular dan kadar gula darah juga menjadi hal penting.

“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam, mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan,” pungkasnya.(ris)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 20 Juni 2026
28o
Kurs