Sabtu, 5 September 2026

Banjir Informasi Digital, Masyarakat Diminta Lebih Kritis Cek Sebelum Share

Laporan oleh Hendra Hutagalung
Bagikan
Ilustrasi. Orang menggunakan handphone. Foto: Pixabay

Eko Setiawan Ketua Tim Kerja Kemitraan Komunikasi dan Lembaga Diskominfo Jawa Timur mengatakan, perubahan dunia digital membuat siapa saja sekarang, bisa menjadi penyebar informasi. Akibatnya, masyarakat tidak lagi sekadar menghadapi kelebihan informasi, tetapi sudah mengalami banjir informasi.

“Sekarang itu, kan, many to many. Siapa pun bisa menjadi media, siapa pun bisa menyebarkan informasi,” kata Eko dalam Talkshow Digitalk Suara Surabaya, Sabtu (5/9/2026).

Karena itu, masyarakat perlu membangun sikap kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.

“Ketika ada informasi yang diterima, jangan langsung dipercaya. Berhenti dulu, tunggu sebentar, direnungi atau bila perlu konfirmasi dulu, cek dulu,” ujar Eko.

Eko menjelaskan, platform digital juga memiliki berbagai fitur yang dirancang untuk membuat pengguna bertahan lebih lama, seperti infinite scroll dan autoplay. Sementara algoritma, mempelajari kebiasaan pengguna dari apa yang dilihat, diklik, dibagikan, maupun dikomentari.

Kondisi bisa membuat seseorang terus menerima informasi yang sesuai dengan kebiasaannya, sehingga seolah-olah pandangannya selalu benar.

“Mampukah kita memilah informasi, mampukah kita merdeka dari algoritma. Itu kembali ke penggunanya tadi,” ujarnya.

Karena itu, Eko menekankan bahwa sekadar melek digital belum cukup. Masyarakat perlu bersikap skeptis ketika menerima informasi di media sosial.

“Ketika ada informasi yang diterima, jangan langsung dipercaya. Berhenti dulu, tunggu sebentar, direnungi atau bila perlu konfirmasi dulu, cek dulu,” kata Eko.

Sementara pemerintah melalui Diskominfo Jawa Timur, juga menyediakan kanal pemeriksa fakta seperti Klinik Hoax dan mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu menelusuri, mengklarifikasi, serta mengonfirmasi informasi yang beredar.

Eko menegaskan, masyarakat harus mampu menggunakan teknologi secara bijak, dengan berpikir kritis, mengenali risiko, serta bertanggung jawab atas setiap aktivitas di ruang digital.

Perlu diketahui, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sepanjang Januari sampai Juli 2025, ada 3,64 miliar anomali serangan siber.

Dalam acara Indonesia Cyber Protection 2026 beberapa waktu lalu, Edit Prima Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata BSSN menegaskan, tantangan keamanan siber saat ini ada di skala yang jauh lebih besar dan sistemik, seiring meningkatnya digitalisasi di seluruh lapisan masyarakat.

Ancaman yang semakin canggih, tidak lagi bisa dihadapi dengan pendekatan tradisional, tapi membutuhkan perubahan paradigma secara menyeluruh. Termasuk dari sisi masyarakat, yang literasi digitalnya masih kurang. Padahal pengguna media sosial di Indonesia terus naik setiap tahunnya.

Data We Are Social yang dirilis akhir tahun kemarin menyebut, pengguna media sosial di Indonesia tumbuh 26 persen year on year, mencapai 180 juta atau sekitar 62,9 persen dari total populasi.

Sementara akses internet masyarakat Jawa Timur, sudah mencapai lebih dari 80 persen, tapi kondisi tersebut belum diimbangi tingkat literasi digital yang memadai. Kesenjangan berpotensi memicu disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial.(hdr/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Sabtu, 5 September 2026
32o
Kurs