Sabtu, 26 September 2026

Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional Indonesia

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Fadli Zon Menteri Kebudayaan RI (duduk) bersama tamu undangan dalam peresmian perpustakaan Danantara, Jumat (25/9/2026). Foto: istimewa

Museum Nasional Indonesia kini memperkuat perannya sebagai ruang pembelajaran publik dengan hadirnya Perpustakaan Danantara.

Fasilitas tersebut resmi dibuka melalui kolaborasi Danantara Indonesia Trust dan Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya.

Fadli Zon Menteri Kebudayaan RI mengatakan, keberadaan perpustakaan di lingkungan museum bukan sekadar penambahan fasilitas publik.

Menurutnya, perpustakaan dan museum memiliki fungsi yang saling menguatkan dalam membangun ekosistem pengetahuan, mulai dari koleksi, dokumentasi, riset, hingga pendidikan masyarakat.

“Museum dan perpustakaan tumbuh sebagai satu ekosistem yang menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik. Buku-buku yang ada, sekitar 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik. Kolaborasi strategis ini mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi,” ujar Fadli Zon saat peresmian Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Menurut Fadli, pengelolaan koleksi perpustakaan secara terbuka akan memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan yang selama ini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

Kehadiran perpustakaan juga dinilai penting untuk mendukung aktivitas penelitian serta produksi pengetahuan berbasis warisan budaya.

Perpustakaan Danantara – Museum Nasional Indonesia merupakan bagian dari kemitraan strategis untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan budaya membaca, sekaligus memperkuat literasi budaya masyarakat.

Fasilitas tersebut menyimpan beragam koleksi, mulai dari buku umum, literatur budaya daerah, buku internasional, buku referensi, terbitan Museum Nasional Indonesia, hingga hikayat dan literatur lama.

Indira Estiyanti Nurjadin Kepala Museum dan Cagar Budaya mengatakan, sejumlah koleksi memiliki nilai sejarah dan penelitian yang penting. Di antaranya arsip dan terbitan Batavia Genootschap, karya sastra lama seperti Serat Centhini, serta berbagai terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang memuat kajian sejarah, kebudayaan, dan benda koleksi.

“Beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi,” kata Indira.

Perpustakaan tersebut juga memiliki koleksi buku terbitan lama, termasuk buku bertahun terbit 1859 berjudul Netherlands Oost-Indië, serta buku perjalanan karya Dr. S.A. Buddingh.

Untuk memudahkan pencarian dan pengelolaan koleksi, Perpustakaan Danantara telah menggunakan teknologi Senayan Library Management System (SLiMS) serta menyediakan fasilitas Online Public Access Catalog (OPAC).

Selain ruang baca, masyarakat dapat memanfaatkan ruang layanan informasi, ruang rapat, dan loker penitipan barang. Demi menjaga kelestarian koleksi sekaligus memberikan pengalaman kunjungan yang optimal, kapasitas pengunjung dibatasi maksimal 20 orang setiap jam.

Pengunjung juga diwajibkan melakukan registrasi secara daring untuk memilih jadwal dan memastikan ketersediaan sesi kunjungan.

Fadli Zon berharap kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust tidak berhenti pada pembangunan fasilitas perpustakaan, tetapi berkembang menjadi kerja sama jangka panjang dalam penguatan ekosistem budaya dan pengetahuan.

“Perpustakaan Danantara ini diharapkan dapat semakin memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai ruang pengetahuan dan pembelajaran budaya. Sekaligus mendukung tugas dan fungsi museum dan cagar budaya dalam mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya untuk kepentingan masyarakat,” ujar Fadli.

Ia menekankan bahwa museum pada masa kini perlu berkembang menjadi institusi publik yang terbuka, terhubung, dan produktif dalam menghasilkan pengetahuan.

Kolaborasi penguatan museum dan perpustakaan juga diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap pengembangan ekonomi budaya dan industri kreatif nasional. Dengan akses pengetahuan yang semakin terbuka, warisan budaya tidak hanya disimpan dan dilestarikan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, inovasi, dan pengembangan kreativitas.

Peresmian Perpustakaan Danantara turut dihadiri Marc Gerritsen Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Aivi Santoso Ketua Pengawas Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Mego Pinandito Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, serta Adin Bondar Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional.(faz/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 26 September 2026
27o
Kurs