Kamis, 8 Oktober 2026

Kesehatan Mental di Tempat Kerja Kerap Diabaikan, Stres Kerja Bisa Picu Burnout hingga Depresi

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi seorang wanita sedang menghadapi stress. Foto: Freepik

Kesehatan mental menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi persoalan ini kerap dianggap sepele terutama di lingkungan kerja. Tekanan pekerjaan menjadi salah satu penyebab awal terjadinya masalah kondisi mental.

Melansir Antara, persoalan kesehatan mental merupakan tantangan besar secara global. Berdasarkan data terbaru dari World Health Organization (WHO) yang diterbitkan pada September 2026 menunjukkan hampir satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Pada 2023, jumlahnya diperkirakan sekitar 1,2 miliar orang.

Kesehatan mental di tempat kerja merujuk pada kondisi emosional, psikologis, dan sosial seseorang dalam lingkungan kerja mereka. Hal ini juga dilihat dari kemampuan seseorang dalam mengelola stres, berinteraksi secara positif kepada rekan kerja, berkontribusi produktif hingga beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan.

Melansir situs resmi Kemenkes, stres kerja merupakan salah satu penyakit mental utama yang terjadi pada pekerja kantor. Beban kerja yang berlebihan, tenggat waktu ketat, dan tuntutan yang terus meningkat dapat memicu stres yang berkepanjangan. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat sebabkan kelelahan mental dan fisik (burnout), kecemasan, bahkan depresi.

Lebih lanjut, berdasarkan survei yang dilakukan Gallup di negara Asia Tenggara pada tahun 2021, sebanyak 20 persen dari 1.000 responden mengalami stres saat berada di tempat kerja, dari Kemnaker.go.id

Selain itu, adanya tekanan di tempat kerja juga bisa sebabkan gangguan panik. Hal itu akan memunculkan gejala fisik seperti detak jantung cepat, sesak napas, nyeri dada, dan rasa takut yang intens.

Perlu diingat keadaan lemah, cemas, atau tidak baik-baik saja bukanlah sebuah kelemahan.

Jika kamu merasa ada yang tidak beres seperti merasakan susah tidur, cemas, mudah marah, ataupun sering gugup tiba-tiba. Jangan langsung menyimpulkan keadaan diri sendiri ataupun langsung menyimpulkan sesudah melihat internet.

Hindari self diagnose, apa yang kita baca di media sosial belum tentu sama dengan kondisimu. Ceritalah kepada orang terdekat yang dipercaya, entah itu keluarga, pasangan, atau teman. Jika dengan cerita kamu masih merasakan gejala itu disetiap harinya bawalah untuk mendapatkan penanganan ahli yaitu ke psikolog.

Jika tidak segera ditangani yang merasakan dampak pertama adalah diri kita baru ke lingkungan kerja.(fia/kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
33o
Kurs