Jumat, 16 Oktober 2026

634 Titik Hotspot Terdeteksi di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Petugas berusaha memadamkan karhutla di Gunung Bromo yang semakin meluas, Sabtu (8/8/2026). Foto: BPBD Probolinggo

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda
Sidoarjo merilis hasil pemantauan satelit yang mencatat kenaikan signifikan jumlah titik panas atau hotspot di Jawa Timur.

Berdasarkan pemantauan satelit terbaru Jumat (16/10/2026) hari ini, BMKG mencatat jumlah total titik panas mencapai 634 titik dari sebelumnya 438 titik pada Kamis (15/10/2026) kemarin.

“Dari total tersebut, sebanyak 53 titik masuk dalam kategori tingkat kepercayaan tinggi, 518 titik sedang, dan 63 titik rendah,” tulis keterangan Tim Humas Stasiun Meteorologi Juanda yang dikutip suarasurabaya.net.

Titik panas tersebut paling banyak terkonsentrasi di lima kabupaten Jawa Timur. Antara lain Bondowoso 153 titik, Probolinggo 123 titik, Mojokerto 84 titik, Jember 62 titik, dan Lumajang 32 titik.

BMKG menyebut lima kabupaten itu kini menjadi prioritas utama pemantauan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kemudian berdasarkan analisis indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC), sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini masuk dalam kategori sangat mudah terbakar.

Kondisi ini dipengaruhi oleh bahan bakar halus di permukaan tanah seperti dedaunan dan rumput dalam keadaan sangat kering sehingga sangat mudah tersulut jika ada sumber api.

“Kondisi sangat mudah terbakar akan mendominasi wilayah Jawa Timur pada 16–17 Oktober 2026,” jelasnya.

BMKG mengingatkan bahwa jika terdapat sumber api seperti pembakaran lahan terbuka atau aktivitas manusia, maka potensi meluasnya kebakaran dalam waktu cepat akan mudah terjadi.

Sementara itu dampak buruk yang dapat ditimbulkan apabila karhutla meluas di suatu wilayah, maka dapat merusak vegetasi, habitat flora/fauna, serta penurunan kualitas udara.

Selain itu asap kebakaran berpotensi menyebabkan ISPA, asma, dan iritasi mata, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil.

Karhutla juga berpotensi mengganggu jarak pandang transportasi darat, laut, maupun udara. Serta terganggunya aktivitas harian masyarakat maupun potensi kerusakan lahan pertanian dan perkebunan.

“Masyarakat dilarang keras membakar sampah, kebun, atau lahan kering yang dapat memicu kobaran api besar,” imbau Tim Humas Stasiun Meteorologi Juanda.(wld/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
31o
Kurs