Minggu, 18 Oktober 2026

LPS Ingatkan Mahasiswa dan Generasi Muda Bahaya Jebakan Finansial Digital

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Farid Azhar Nasution Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS dalam kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Surabaya, Jawa Timur. Foto: Antara

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan generasi muda agar mewaspadai jebakan keuangan digital, mulai dari judi online, pinjaman online (pinjol) ilegal, hingga kebiasaan belanja impulsif atau berlebihan tanpa perencanaan.

Farid Azhar Nasution Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kemudahan mengakses layanan keuangan melalui ponsel belum tentu diikuti dengan pemahaman yang baik mengenai risiko penggunaannya.

“Sebagian besar masyarakat sudah memiliki smartphone dan mudah mengakses produk keuangan digital, namun kemudahan tersebut juga diikuti oleh berbagai risiko seperti pola belanja impulsif, pinjaman online ilegal dan judi,” kata Farid dalam kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (18/10/2026), yang dilansir Antara.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,5 persen. Sementara tingkat inklusi keuangan tercatat lebih tinggi, yakni 93,6 persen.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan, belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan memahami dan mengelola risiko keuangan.

Farid juga menyoroti maraknya judi online, termasuk taruhan olahraga atau sport betting, yang dinilai rentan menyasar generasi muda, terutama Generasi Z.

Ia mengutip data Bloomberg yang menyebutkan sebanyak 52 persen responden pernah mengalihkan dana investasinya untuk taruhan olahraga. Bahkan, 26 persen responden menganggap taruhan itu sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.

Menurut Farid, kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi keuangan sejak dini. Mahasiswa perlu memahami risiko produk keuangan digital, mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta lebih berhati-hati mengambil keputusan finansial.

Ia juga mendorong generasi muda membiasakan diri menabung dengan prinsip Sisihkan, Bukan Sisakan. Artinya, sebagian pendapatan atau uang saku dialokasikan untuk tabungan sejak awal, bukan hanya menyimpan uang yang tersisa setelah digunakan.

Kebiasaan itu dinilai penting untuk membangun dana darurat dan mempersiapkan kebutuhan pada masa mendatang.

Selain menabung dalam bentuk uang, Farid mengingatkan mahasiswa agar berinvestasi pada pengembangan diri melalui peningkatan pengetahuan, pembentukan karakter, dan perluasan hubungan sosial yang positif.

Dalam kesempatan yang sama, LPS dan Unesa menandatangani perjanjian kerja sama mengenai pengembangan kompetensi, penelitian, serta sosialisasi fungsi, tugas, dan kewenangan LPS.

Kerja sama tersebut mencakup peningkatan kompetensi mahasiswa dan dosen, sekaligus memperluas pemahaman lingkungan kampus mengenai peran LPS. Farid berharap mahasiswa semakin mampu mengelola keuangan secara sehat, mengenali risiko transaksi digital, dan mempersiapkan kemandirian finansial sejak dini. (ant/bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Minggu, 18 Oktober 2026
30o
Kurs