Putera Sampoerna Foundation (PSF) dan Bank HSBC Indonesia melalui Sampoerna University gelar Training of Trainers (ToT) tahun kedua, khusus bagi dosen-dosen keuangan dan perbankan dengan fokus pada financial deepening atau pendalaman finansial.
Itu dilandasi semakin meningkatnya kebutuhan akan bankir-bankir lokal yang memiliki kompetensi spesialis dan memahami layanan-layanan finansial perbankan modern, serta mampu mendukung pendalaman sektor finansial dan memperluas penggunaan instrumen keuangan di Indonesia.
Data terakhir dari Global Financial Development Database menunjukkan bahwa rasio kredit terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di Indonesia pada 2014 masih menempati posisi terendah dibanding beberapa negara berkembang di Asia.
Hal ini menunjukkan pendalaman finansial yang masih terbilang rendah. Padahal, pendalaman finansial juga merupakan faktor determinan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
“Kami memahami bahwa tantangan perkembangan industri keuangan dan perbankan Indonesia memunculkan kebutuhan profesional perbankan yang berkualifikasi lengkap. Ini mendorong kami membantu penguatan edukasi keuangan bagi tenaga pengajar di bidang perbankan dan keuangan, sehingga dapat mencetak lebih banyak lagi spesialis perbankan modern,” ujar Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability Bank HSBC Indonesia.
Pelatihan ToT bagi para dosen ini difokuskan pada pengenalan materi ajar terkait aktivitas perbankan modern, baik untuk mendorong intermediasi finansial, maupun meningkatkan pendapatan non-bunga dari industri perbankan dalam rangka mendorong pendalaman finansial.
Adapun materi-materi tersebut meliputi manajemen perbendaharaan (treasury management), manajemen risiko (risk management), manajemen kredit (credit and lending management), dan operasional perbankan (banking operations).
Wahyoe Soedarmono Project Manager Program Kerjasama HSBC-PSF sekaligus ekonom dari Sampoerna University menjelaskan, bahwa untuk mendorong pendalaman finansial untuk pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari penguatan peran perbankan sesuai dinamika ekonomi global dan domestik yang cepat berubah.
Oleh karena itu, diversifikasi produk selain kredit sangat diperlukan sebagai sumber pendapatan baru bagi perbankan. Selain memberikan dampak positif bagi perbankan dan publik karena hadirnya instrumen-instrumen keuangan yang makin beragam dalam mendorong pendalaman finansial, diversifikasi produk keuangan juga dapat menimbulkan peningkatan risiko perbankan.
“Pendidikan keuangan dan perbankan yang mengintegrasikan aspek perbankan dan pasar modal bersifat penting untuk menyiapkan bankir masa depan yang andal dalam mengembangkan instrumen keuangan modern selain kredit, dengan tetap menjaga aspek kehati-hatian,” kata Wahyoe Soedarmono.
Sementara itu ditambahkan Inka B. Yusgiantoro, Peneliti Senior Grup Riset dan Database Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, melihat bahwa program ini berpotensi mendorong sektor jasa keuangan yang kontributif, stabil, dan inklusif terhadap perekonomian nasional dalam jangka panjang.
“Kami berharap para dosen terpacu mengembangkan riset-riset yang aplikatif dan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang keuangan dan perbankan, sehingga mampu memberikan efek domino terhadap penguatan literasi keuangan masyarakat secara luas, terutama lewat pengembangan literatur-literatur terkait perbankan dan industri jasa keuangan secara keseluruhan,” kata Inka.
Lebih dari 100 dosen, seperti dilansir dalam siaran pernsya untuk suarasurabaya.net, Jumat (4/8/2017) mengikuti Program ToT dan mereka berasal dari daerah di sekitar Jawa Timur.(tok/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

