Rabu, 26 Februari 2020

Pelabuhan Benoa Ditargetkan Jadi Pelabuhan Kapal Pesiar Terpadat di Indonesia

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
(Dari kanan) Doso Agung Direktur Utama Pelindo III, Wishnutama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Erick Thohir Menteri BUMN saatn pembahasan pengembangan kawasan Benoa, di Bali, Jumat (14/2/2020). Foto: Istimewa

Kementerian BUMN melalui Pelindo III melakukan pengembangan atau revitalisasi kawasan pelabuhan Benoa menjadi home port cruise untuk pelabuhan-pelabuhan di seluruh wilayah Indonesia.

Rencana tersebut dijelaskan oleh Erick Thohir Menteri BUMN di Bali, Jumat (14/2/2020). Dalam rapat koordinasi pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub dan kunjungan lokasi bersama delapan BUMN dan seluruh anggota Komisi VI DPR RI di hotel Inaya Nusa Dua Bali, Erick mengungkapkan bahwa Benoa akan menjadi pelabuhan utama kapal pesiar terpadat di Indonesia.

Selain itu, pengembangan kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas penunjang, sehingga akan berdampak langsung pada pendapatan negara dan perekonomian masyarakat lokal sekitar.

“Wisatawan itu dibagi dua asalnya ada udara dan laut. Selama ini dari laut fasilitasnya di Indonesia kurang. Ini lah yang perlu kita benahi pelabuhan Benoa ini. Benar penting ada turis tapi faktor ekonomi lainnya kita siapkan peti kemas dan lainnya, kita mau di dumping satu hanya produk lokal aja yang di pamerkan,” jelas Erick Thohir berdasarkan keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net.

Wishnutama Kussubandio Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menuturkan, pihaknya menyambut baik rencana dari kementerian BUMN tersebut. Pengembangan Pelabuhan Benoa diharapkan akan bisa menopang target 20 juta kunjungan wisatawan pemerintah Indonesia tahun 2020.

“Kami dari Kemenparekraf menyampaikan terimakasih kepada Kementerian BUMN, Pelindo III dan seluruh yang terkait pembangunan pelabuhan benoa ini menjadi pelabuhan sekaligus kawasan wisata, kami berharap pembangunan infratruktur bisa meningkatkan daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri serta meningkatkan pendapatan Devisa Negara,” jelas Wishnutama.

Sementara itu, Doso Agung Direktur Utama Pelindo III menuturkan, revitalisasi atau pengembangan Pelabuhan Benoa sudah dimulai sejak tahun 2019 dengan memisahkan pelabuhan khusus penumpang dengan kawasan komersial.

“Nantinya kawasan Pelabuhan Benoa akan difokuskan untuk melayani penumpang dan wisatawan. Revitalisasi kawasan tersebut dimulai dengan menambah luas dermaga dengan kapasitas sandar dari 1 menjadi 4 kapal pesiar (Cruise) secara bersama. Tak hanya itu, Pelindo III juga akan menambah kapasitas terminal dari dari 150 call/tahun menjadi 600 call/tahun dan kapasitas penumpang dari 1 juta orang menjadi 3,2 juta orang,” ujar Doso Agung.

Pelindo III juga akan mengembangkan pariwisata di kawasan pelabuhan yang disediakan untuk para penumpang kapal yang ingin berjalan-jalan di sekitar pelabuhan dengan fasilitas Marine Tourism, Eco Tourism, Adventure, Heritage, Religi, Art & Culinary Tourism, MICE & Event, wisata olahraga.

Memindahkan area pelabuhan untuk petikemas, general cargo dan curah, terpisah dengan area pelabuhan untuk wisata yang sebelumnya di kawasan Pelabuhan Benoa menuju 2 kawasan khusus atau Dumping 1 dan Dumping 2 seluas total 70 hektar yang sudah dibangun.

Tak hanya itu, di kawasan tersebut juga akan dibangun berbagai fasilitas pendukung wisata, ekonomi, dan budaya seperti kawasan pameran produk UMKM, Gedung Promosi Budaya, dan tambatan khusus kapal yacht, hingga kawasan hutan kota seluas kurang lebih 51 persen dari total luasan.

Penataan ulang sekaligus revitalisasi ini perlu dilakukan guna menghadirkan kawasan pelabuhan khusus wisata dan penumpang sehingga Benoa Maritim Tourism Hub diharapkan bisa menjadi salah satu Program Strategis Nasional.(tin/ipg)

Berita Terkait