Senin, 5 Desember 2022

Bersama China dan India, EIU Prediksi Ekonomi Indonesia Bertahan Tumbuh Positif di Tengah Covid-19

Laporan oleh Eddy Prastyo
Bagikan
The Economist Intelligence Unit.

Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di G-20 yang masih punya pertumbuhan ekonomi positif di tengah badai virus Covid-19 selama tahun 2020. Data ini dikeluarkan The Economist Intelligence Unit (EIU) –kelompok riset intelijen bisnis yang dimiliki The Economist, media ekonomi terkemuka berbasis di London, Inggris.

Dalam publikasi yang diterbitkan 26 Maret 2020 itu, EIU menyebut secara garis besar, ekonomi dunia akan berkontraksi sebesar 2,2%. Ini karena G-20, kelompok negara penggerak ekonomi dunia, tengah dilanda tekanan hebat akibat Covid-19.

Pada catatan EIU, Indonesia mampu bertahan tumbuh positif di angka 1% dari proyeksi awal sebesar 5%. Selain Indonesia, China juga bertahan di angka pertumbuhan 1% dengan proyeksi awal 5,9. Negara ketiga yang juga bertahan di pertumbuhan positif adalah India dengan 2,1% dari proyeksi semula 6%.

Agathe Demarais Direktur The EIU Global Forecasting mengatakan, ekonomi global diprediksi suram di tahun 2020 ini karena gelombang-gelombang pandemi Covid-19. Dia berasumsi akan ada pemulihan ekonomi di semester kedua tahun ini. Tapi pemulihan itu pun masih dihantui banyak ketidakpastian.

Sumber : The Economist Intelligence Unit

“Kemungkinan akan munculnya gelombang epidemi kedua, atau ketiga akan menenggelamkan pertumbuhan lebih lanjut. Pada tahap ini, juga sulit untuk melihat strategi keluar dari penguncian, yang berarti bahwa ketidakpastian akan tetap tinggi. Akhirnya, kombinasi dari pendapatan fiskal yang lebih rendah, dan pengeluaran publik yang lebih tinggi, akan menempatkan banyak negara di ambang krisis utang,” kata Agathe Demarais, Direktur The EIU Global Forecasting

Sekilas Pandang Kondisi Regional

Amerika Serikat

Ekonomi AS akan berkontraksi sebesar 2,8% tahun ini. Respons awal pemerintahan Donald Trump terhadap krisis Covid-19 dinilai EIU kurang memuaskan. Selain itu, ketika risiko ekonomi yang terkait dengan Covid-19 mulai meningkat, perjanjian antara Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak runtuh, membuat harga minyak jatuh.

Kombinasi pandemi Covid-19 dan penurunan harga minyak global, berdampak pada kontraksi tajam investasi tahun ini, terutama di sektor energi. Pada sisi lain, pertumbuhan ekspor AS juga akan menurun. Angka pengangguran diAmerika Serikat juga diprediksi EIU meningkat tajam. Kondisi ini menempatkan Donald Trump pada posisi yang sulit di tengah kontestasi politik Pemilihan Presiden AS yang berlangsung tahun ini.

China

Dibandingkan wabah SARS, krisis Covid-19 ini dinilai EIU punya dampak lebih dalam pada ekonomi China. Dengan asumsi bahwa Covid-19 tersebut tidak menyebar lagi dalam gelombang berikutnya, EIU memprediksi pertumbuhan PDB riil China hanya berdiri 1% pada tahun 2020, dibandingkan dengan yang diperkirakan 6,1% pada tahun 2019. Perlambatan akan terkonsentrasi pada kuartal pertama tahun ini dan masih akan tetap terasa di kuartal kedua. Pertumbuhan akan pulih pada paruh kedua tahun ini ketika China biasanya menghasilkan sebagian besar PDB-nya.

Eropa

Zona euro akan menjadi salah satu daerah yang paling terpukul, membukukan resesi setahun penuh 5,9%. EIU memprediksi pertumbuhan ekonomi tiga negara akan mengalami pukulan paling telak selama tahun ini : Jerman (-6,8%), Prancis (-5%), dan Italia (-7%).

Di Jerman, sektor manufaktur besar sangat berorientasi ekspor, yang berarti bahwa negara tersebut secara khusus terkena gangguan rantai pasokan dan permintaan global yang lemah. Akibatnya, pemulihan yang diharapkan terjadi di negara-negara zona euro lainnya pada paruh kedua tahun 2020, akan terwujud jauh lebih lambat di Jerman.

Amerika Latin

Prospek pertumbuhan sangat buruk di Amerika Latin. Argentina (-6,7%), Brasil (-5,5%), dan Meksiko (-5,4%) akan mendaftar resesi tahun ini. Meksiko sangat bergantung pada tren di AS, dan ekspektasi kami bahwa pertumbuhan PDB AS akan turun memberi tekanan pada prospek ekonomi Meksiko. Di seluruh kawasan, gangguan bisnis akan menyebabkan investasi asing langsung ke dalam negeri (FDI) turun tajam. Ini akan sangat merusak di wilayah di mana tabungan domestik lemah dan FDI menyumbang 3% dari PDB dan 15% dari total investasi tetap. Sementara itu, untuk negara-negara bagian paling selatan, musim dingin akan menjadi tantangan berikutnya di paruh kedua tahun ini karena adanya prospek peningkatan pandemi di gelombang berikutnya.

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Muatan Truk Jatuh Menutup Lajur di Jalan Dupak

Menerjang Kemacetan di Jembatan Branjangan

Atap Teras Pendopo Gresik Roboh

Surabaya
Senin, 5 Desember 2022
28o
Kurs