Jumat, 26 Februari 2021

Akibat Pandemi, 300 Ribu Penduduk Jatim Menganggur Selama 2020

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Grafis: Freepik

Angka pengangguran selama 2020 melonjak signifikan. Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim mencatat pengangguran mencapai 1,3 juta orang atau setara 5,26 persen.

Himawan Estu Bagijo Kepala Disnakertrans Jatim mengakui, lonjakan angka pengangguran di Jatim ini merupakan dampak dar kondisi pandemi Covid-19 yang melanda hampir semua negara.

“Dari jumlah pekerja 8 juta lebih (di Jatim) ada penambahan 300 ribu pengangguran (baru). Kebanyakan angka pengangguran merupakan lulusan SMA dan SMK di Jawa Timur,” ujarnya, Senin (25/1/2021).

Pada 2019 silam, Himawan menyebutkan, pengangguran di Jatim hanya 3,6 persen dari jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 40 juta. Maka pengangguran pada 2020 mengalami peningkatan.

Beberapa faktor di antaranya, banyak pekerja migran dari Jatim yang putus kerja selama pandemi. Bahkan, beberapa lulusan baru tingkat SMA/SMK belum bisa berangkat menjadi pekerja migran.

“Karena jumlah pengangguran juga didukung dari sektor migran. Banyak pekerja migran yang putus kerja selama pandemi Covid-19 ini,” kata Himawan.

Data pengangguran Disnakertrans Jatim selaras dengan data BPS Jatim yang menyebutkan, sampai Agustus 2020 lalu, sebanyak 1,30 juta penduduk di Jatim menganggur.

Menurut BPS Jatim, pada periode yang sama angkatan kerja di Jatim meningkat menjadi 22,26 juta jiwa, naik 396,37 ribu atau 1,81 persen dibandingkan Agustus 2019 lalu.

“Sampai Agustus 2020, hanya 20,96 juta orang penduduk di Jatim yang bekerja,” kata Dadang Hardiwan Kepala BPS Jatim beberapa waktu sebelumnya.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jatim, kata Dadang, meningkat 2,88 persen poin. Sampai Agustus 2020 TPT Jatim jadi 5,84 persen dari 3,82 persen. Pengangguran terbuka terbanyak ada di perkotaan.

“Di perkotaan TPT mencapai 7,37 persen. Sedangkan di pedesaan sebesar 4,13 persen,” ujar Dadang.

Data BPS juga menunjukkan, berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan SMK masih dominan dengan kontribusi 11,89 persen. Sedangkan SMA 9,34 persen.

Dadang berpendapat, tingginya pengangguran di Jatim karena bermasalahnya tawaran tenaga kerja lulusan SMK/SMA di Jatim dengan pasar kerja.(den/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Mobil Masuk Sungai di Jemursari

Surabaya
Jumat, 26 Februari 2021
25o
Kurs