Jumat, 3 Desember 2021

Atasi Bonus Demografi di Usia ke-76 Tahun Jatim, MJC Targetkan 3.000 Proyek pada 2021

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
emil-elestianto-dardak Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur saat mengisi Seminar Nasional Smart City Creative Government, Membangun Ekosistem Digital CETTAR Demi Pembangunan Jawa Timur yang digelar AMSI Jatim di Prigen, Pasuruan, Sabtu (12/6/2021). Foto: Istimewa

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur menyatakan, munculnya Gig Economy  (sistem tenaga kerja bebas di mana perusahaan hanya mengontrak pekerja independen dalam jangka waktu pendek) tidak bisa dihindari dalam pola bisnis ekonomi saat ini, termasuk di Provinsi Jatim.

Meskipun, sampai saat ini Jatim tetap mengejar investasi besar yang bisa menyediakan jutaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, seperti proyek Smelter Freeport di JIIPE Gresik yang akan diresmikan Jokowi Presiden Selasa (12/10/2021) ini, namun perubahan pola bisnis ekonomi masa depan tetap disiapkan.

Gig ekonomi ini tidak bisa kita hindari. Itu realita. Perusahaan sekarang ini mulai lebih banyak mempekerjakan freelancer. Pekerja independen, yang tidak terikat sebagai karyawan. Inilah yang ingin kami wadahi dalam Millenial Job Center (MJC). Karena apa? Oke, memang ada investasi besar seperti Smelter Freeport untuk menyerap tenaga kerja, tapi itu tidak cukup,” ujarnya saat mengudara di Radio Suara Surabaya.

Emil mengaku senang, investasi yang masuk ke Gresik itu adalah investasi yang sifatnya capital intensive. Capital intensive adalah adalah investasi puluhan triliun yang antara investasinya dengan penciptaan lapangan kerjanya memang berbeda dengan Industri padat karya seperti yang sedang dibangun di MJC. Selain itu, mereka juga membutuhkan tenaga kerja dengan skill tinggi.

“Nah, ini di wilayah Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan upah minimumnya sudah sama dengan Jabodetabek. Maka kami perlu create kerjaan yang seperti itu. Tapi tentunya jumlah kerjaan yang sifatnya begitu (dari investasi capital intensive) akan semakin berkurang. Maka kami ingin mendidik millenials untuk siap juga dengan jalur karir sebagai freelance di era gig economy,” katanya.

MJC kata Emil dibangun untuk menjawab realita lapangan kerja bagi kalangan muda. Dia ingin, dengan adanya MJC, kalangan muda tidak lagi merasa masa depannya berakhir kalau mereka yang membawa map ke mana-mana melamar kerja ke perusahaan tapi tetap tidak dapat pekerjaan.

“Mereka harus punya mentalitas sebagai freelance, mereka harus punya kedewasaan, kematangan untuk menghadapi klien. Di sisi lain, sebagai freelance itu mereka juga punya potensi membantu UMKM dan usaha lain menghadapi realita ini. Karena dulu orang mungkin jualan keripik, snack, makanan minuman, tinggal titip di supermarket, restoran, atau toko oleh-oleh. Sekarang mau enggak mau mereka harus ke marketplace. Yang mana persaingan semakin terbuka,” ujarnya.

Meski demikian, dia menyadari, Talenta yang bergabung dengan MJC di awal-awal mungkin belum siap menghadapi klien. Salah satunya karena belum berpengalaman. Klien pun enggan memakai jasa talenta bersangkutan. Karena itu ada mentor yang disiapkan, yang memang berpengalaman menjadi freelancer untuk mendampingi mereka dalam meyakinkan klien.

“Jadi MJC ini punya dua tujuan sekaligus. Talenta kami siapkan, tetapi di saat yang sama UMKM ini kami bantu untuk bertransformasi. Nah, Alhamdulillah, tahun ini mudah-mudahan kami bisa mencapai target 3 ribu proyek MJC. Melanjutkan pencapaian sebelumnya yang sudah 2 ribu proyek,” katanya. “Dan kami akan membina ribuan talenta. Ini yang sudah tercapai di Jatim.”

Seperti diketahui, Bonus Demografi di Jatim akan membuat provinsi ini kebanjiran tenaga kerja muda. Jumlahnya mencapai 24 persen atau hampir 10 juta penduduk. Melalui MJC, Emil Dardak ingin menciptakan para agen perubahan yang mampu membawa pengaruh positif agar para generasi muda tetap optimistis berkarya dan menciptakan lapangan kerja baru dengan memanfaatkan segala perubahan digital.

“MJC sudah menyeluruh di Jatim. Ada yang kami koordinasikan per bakorwil supaya merata ke talenta di Jatim. Tapi memang fenomena ini condong ke urban, ya. Artinya kita bicara, misalnya, mungkin wilayah Madiun. Di Madura ada di Pamekasan, lalu di Malang Raya, juga di Jember yang banyak kampusnya, gitu ya. Tapi talenta ini bisa dari mana saja. Di Bakorwil Jember bisa dari Banyuwangi, yang Malang bisa dari Pasuruan, yang Madiun bisa dari Ponorogo dan seterusnya,” katanya.

Tidak hanya mendapatkan bimbingan dari para mentor dan pengalaman menangani klien secara profesional, para talenta yang bergabung di MJC dan sudah lulus dari program yang ada, mereka akan dinaungi dengan ekosistem yang akan membuat mereka tetap bisa belajar dan menangkap peluang proyek dari klien.(den/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
26o
Kurs