Rabu, 20 Oktober 2021

BI Tingkatkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2021 Jadi 5,8 Persen

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI. Foto : Faiz

Bank Indonesia meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 dari 5,7 persen menjadi 5,8 persen di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat, seiring penyebaran varian delta Covid-19 di sejumlah negara.

Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Juli 2021 di Jakarta, Kamis (22/7/2021), mengatakan salah satu pemicu membaiknya perekonomian global adalah pulihnya kinerja perdagangan internasional.

“Volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga diperkirakan lebih tinggi sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujarnya seperti yang dilansir Antara.

Menurut dia, perkiraan itu juga ditopang kenaikan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan Kawasan Eropa, seiring percepatan vaksinasi serta berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tetap tinggi.

Sementara itu, prospek ekonomi India dan kawasan ASEAN kemungkinan akan lebih rendah akibat penerapan pembatasan mobilitas untuk mengatasi peningkatan kembali kasus Covid-19.

Namun, lanjut dia, ketidakpastian pasar keuangan global diperkirakan meningkat, didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap peningkatan COVID-19 dan dampaknya terhadap prospek ekonomi dunia, serta antisipasi terhadap rencana kebijakan pengurangan stimulus moneter atau tapering Bank Sentral AS, The Fed.

Kondisi tersebut, tambah Perry, mendorong pengalihan aliran modal kepada aset keuangan yang dianggap aman atau flight to quality, sehingga mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Penyesuaian aliran modal keluar dari negara berkembang pun menyebabkan nilai tukar rupiah pada 21 Juli 2021 melemah 0,29 persen secara point to point dan 1,14 persen secara rerata dibandingkan dengan level akhir Juni 2021.

“Dengan perkembangan itu, rupiah sampai 21 Juli 2021 mencatat depresiasi sekitar 3,39 persen dibandingkan dengan level akhir 2020, relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi dari mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand,” kata Perry.(ant/tin)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Rabu, 20 Oktober 2021
27o
Kurs