Sabtu, 4 Desember 2021

Catatan Kritis Soal Pertumbuhan Ekonomi 7,07 Persen

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen year on year (yoy) pada triwulan II-2021, dibandingkan periode sama tahun lalu. Foto: BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen year on year (YoY) pada triwulan II-2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (2020).

Dengan angka ini, BPS menyatakan, Indonesia sudah resmi keluar dari resesi ekonomi seiring realisasi pertumbuhan yang positif.

Firman Rosjadi Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya) berpendapat, angka ini bisa jadi belum sepenuhnya tercermin dalam keseharian karena merupakan angka agregat atau output total.

Dalam catatannya, angka 7,07 YoY ini muncul karena di kuartal 2 tahun 2020 ekonomi Indonesia drop. Sehingga, kata dia, bila ada kenaikan wajar saja bila angkanya tinggi. Sebaliknya, bila dihitung antar kuartal, kuartal 1 ke kuartal 2, menurutnya kenaikan hanya sebesar 3 persen.

“Kalau saya hitung dari kuartal ke kuartal memang enggak besar, tetapi ketika dihitung YOY karena tahun lalu sangat drop sekali (jadinya tinggi, red),” katanya kepada Radio Suara Surabaya, Jumat (6/8/2021).

Firman pun mempertanyakan, siapa yang menikmati pertumbuhan 7,07 yoy ini. Karena di Indonesia, 90 persen lebih usaha digerakkan oleh UMKM sehingga perlu dilihat lebih rinci data yang dirilis BPS tersebut.

“Angka ini secara keseluruhan lebih sehat. Tetapi itu harus disikapi dengan sangat hati-hati. Misalnya (pertumbuhan) UMKM seperti apa. Jangan-jangan angka yang tinggi itu tidak dinikmati UMKM. Jadi angka ini kita sambut baik tapi ada catatan yang menyertai angka itu,” kata Firman.

Dia menyoroti, angka pertumbuhan produksi 7,07 yoy itu apakah benar berbanding lurus dengan masyarakat berpenghasilan kecil? “Sebab, kalau ternyata itu tidak dinikmati bagian terbesar di masyarakat bawah, justru ketimpangan yang akan naik,” katanya.

Angka 7,07 yoy ini, kata Firman, didorong oleh belanja pemerintah. Sementara belanja datang dari pinjaman. Menurutnya akan lebih baik bila angka itu, selain datang dari pengeluaran konsumsi, juga datang dari investasi. Sehingga gairah dalam perekonomian bisa terukur.

“Ada catatan kritis yang harus diberikan untuk angka sebesar itu,” kata Firman.

Dari indeks keyakinan konsumen, kabar positif ini diharapkan bisa menumbuhkan keyakinan konsumen bahwa ekonomi akan membaik, sehingga diharapkan konsumen mau mengeluarkan uangnya. Lalu dari sektor usaha, purchasing manager index ikut naik seiring pengumuman positif ini.

“Dua hal itu yang saya kira untuk menimbulkan ekspektasi bagus sehingga konsumen mau berbelanja dan produsen mau produksi,” ungkap Firman.

Selain itu, bila data lebih rinci sudah keluar bisa dilihat mana usaha yang bagus dan mana yang masih sulit sehingga pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang menyertai angka detilnya.

Dalam penilaiannya, Firman mengatakan, untuk kuartal ketiga nanti bisa jadi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri tidak sebaik pada kuartal kedua tahun ini.

“Tantangannya sekarang, kan, kita (memasuki) gelombang kedua Covid-19. Ini, kan, PPKM berlaku sejak minggu terakhir Juli dan diperpanjang sampai Agustus. Bisa jadi di kuartal ketiga pertumbuhannya enggak sebagus kuartal kedua kalau melihat ada pembatasan-pembatasan,” katanya.(dfn/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
30o
Kurs