Kamis, 9 Februari 2023

Harga Minyak Turun, Catat Kerugian Mingguan Terbesar dalam Beberapa Bulan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi: Ladang minyak Equinor di Johan Sverdrup, Laut Utara Norwegia. Foto: Reuters

Harga minyak turun pada akhir perdagangan yang bergejolak pada Jumat (9/10/2022), dengan kedua kontrak acuan mencatat kerugian mingguan terbesar mereka dalam beberapa bulan.

Hal tersebut dikarenakan meningkatnya kekhawatiran resesi, yang meniadakan kesengsaraan pasokan setelah data ekonomi yang lemah dari China, Eropa dan Amerika Serikat.

Melansir laporan Antara, Sabtu (10/12/2022) pagi, Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari terpangkas 44 sen menjadi menetap di 71,02 dolar AS per barel, level terendah baru untuk tahun 2022. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari menyusut 5 sen, menjadi ditutup pada 76,10 dolar AS per barel.

“Kekhawatiran tentang pasokan adalah sekunder dari kekhawatiran tentang ekonomi,” kata Robert Yawger analis Mizuho dalam kajiannya.

Harga minyak telah menemukan beberapa dukungan dan naik lebih dari 1,0 persen di awal sesi setelah Vladimir Putin Presiden Rusia mengatakan eksportir energi terbesar dunia itu dapat memangkas produksi, sebagai tanggapan atas pembatasan harga pada ekspor minyak mentahnya.

Namun, kenaikan harga produsen AS yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan pada November, dan berita tentang dimulainya kembali sebagian penyaluran minyak pada Keystone Pipeline membatalkan kenaikan tersebut dan mendorong harga acuan turun lebih dari satu dolar. Keystone ditutup awal pekan ini setelah kebocoran minyak 14.000 barel di Kansas.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks harga produsen (IHP) AS naik sedikit lebih besar dari yang diperkirakan pada November 2022, di tengah lonjakan biaya jasa-jasa.

“Peningkatan tersebut mungkin membuat Federal Reserve (The Fed) kemungkinan melakukan percepatan pada kenaikan suku bunganya, dan melanjutkan kekhawatiran akan resesi yang membayangi,” kata Yawger.

Kedua harga acuan minyak mentah membukukan kerugian mingguan masing-masing sekitar 10 persen. Itu adalah penurunan mingguan terbesar sejak April untuk kontrak berjangka WTI AS, dan sejak awal Agustus untuk Brent.

Baik Yawger maupun Walter Zimmerman kepala analis teknis di ICAP, memperingatkan jika minyak mentah AS turun di bawah 70 dolar AS per barel, itu bisa terjun bebas dan mencapai kisaran rendah 60 dolar AS selama sesi mendatang.

Struktur pasar untuk kontrak WTI beralih ke perdagangan contango selama tahun depan untuk pertama kalinya sejak November 2020, dengan kontrak untuk pengiriman jangka pendek lebih murah daripada satu tahun kemudian. Kontrak Brent juga beralih ke perdagangan contango selama enam bulan ke depan.

Sebuah pasar dalam contango menunjukkan berkurangnya kekhawatiran tentang situasi pasokan saat ini karena melemahnya permintaan, dan mendorong pedagang untuk menyimpan barel.

Para ekonom juga memprediksi lonjakan infeksi Covid-19 di China kemungkinan akan menekan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan, meskipun beberapa pembatasan telah dilonggarkan.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekonomi AS akan mengalami resesi singkat dan dangkal di tahun mendatang. Peramal memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) pada 14 Desember.

Bank Sentral Eropa kemungkinan juga akan menaikkan suku bunga simpanan sebesar 50 basis poin minggu depan menjadi 2,0 persen, sekalipun saat ekonomi zona euro diyakini sudah berada dalam resesi. (ant/bil/ipg)

Berita Terkait