Selasa, 25 Juni 2024

INDEF Ingatkan Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat dan Konsumsi Domestik

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian menyebut ekonomi Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah lembaga internasional pun mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bank Pembangunan Asia (ADB) yang semula memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,4 persen, merevisi menjadi 5 persen.

Bahkan, Bank Dunia (World Bank) serta OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 di bawah 5 persen.

Proyeksi itu sejalan dengan prospek perlambatan ekonomi global.

“OECD mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,3 persen menjadi 4,7 persen. IMF dari 5,3 persen menjadi 5 persen. Tapi, semua koreksi masih di angka 4,7 sampai 5 persen,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (20/12/2022).

Terkait itu, Andry Satrio Nugroho Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan Indonesia punya pekerjaan rumah menjaga daya beli masyarakat dan konsumsi domestik ketika ekonomi dunia dihadapkan pada ketidakpastian.

“Tugas besar Pemerintah adalah menjaga daya beli masyarakat,” ucapnya kepada wartawan, Rabu (21/12/2022).

Menurut Andry, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada daya beli masyarakat. Artinya, kalau daya beli masyarakat terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih berpeluang besar mampu menghadapi dampak pelambatan ekonomi global.

“Sebetulnya kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup sederhana, bagaimana daya beli masyarakat terjaga, mereka bisa konsumsi tanpa terganggu, mereka bisa usaha tanpa terganggu oleh ketidakpastian pasokan bahan baku atau regulasi yang ada. Mungkin akan terdampak tapi dampaknya tidak terlalu besar,” paparnya.

Lebih lanjut, Andry memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 tidak mencapai 5 persen. Hal itu dipengaruhi krisis pangan dan energi yang terjadi akibat perang Rusia-Ukraina.

“Kalau berbicara target pertumbuhan ekonomi, dari INDEF angkanya 4,8 persen, dan kami melihat beberapa lembaga internasional sudah menurunkan angka pertumbuhan ekonomi global. Salah satunya adalah masih adanya ketidakpastian yang akan hadir akibat krisis geopolitik yang mengakibatkan krisis energi dan pangan yang masih dirasakan banyak negara, terutama negara maju,” terangnya.

Walau begitu, dia bilang Indonesia masih bisa bernafas karena ekonomi Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekonomi global. Indonesia tidak menempati posisi utama dalam mata rantai pasok global.

“Tentunya Indonesia tidak terlalu terdampak karena salah satunya konektivitas dengan negara di luar Indonesia cenderung rendah. Artinya, Indonesia menjadi bagian dari global supply chain tapi itu juga masih rendah,” tegasnya.

Sementara itu, Piter Abdullah Redjalam Direktur Eksekutif Segara Institute mengatakan, sejumlah lembaga internasional mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena faktor ketidakpastian global.

Tapi, hal yang melegakan proyeksi itu angkanya masih positif.

“Mereka mengoreksi karena faktor ketidakpastian global. Memang banyak hal yang harus diwaspadai. Tapi, kalau kita cermati ada kesamaan pandangan bahwa Indonesia akan tetap tumbuh positif tahun 2023,” ucapnya

Perbedaan dari sejumlah lembaga internasional adalah besaran ekonomi akan tumbuh.

“Pertumbuhan ekonomi di kisaran 4 sampai dengan 5 persen itu adalah baseline scenario. Kalau pandangan optimisnya bisa di atas 5 persen,” jelas Piter.

Berikutnya, Piter mengingatkan Pemerintah serius menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

“Perekonomian kita ditopang permintaan domestik. Kalau permintaan domestik tetap terjaga, ekonomi akan tumbuh baik,” sebutnya.

Kemudian, Piter berharap Pemerintah tidak lengah walau tren kasus Covid-19 terus menurun.

“Yang perlu diantisipasi adalah pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir. Jangan sampai terjadi seperti di China. Risiko itu harus dimitigasi,” tutupnya.(rid/ipg)

Berita Terkait

..
Surabaya
Selasa, 25 Juni 2024
27o
Kurs