Kamis, 9 Februari 2023

INDEF: Ketahanan Ekonomi Indonesia Harus Bisa Dikapitalisasi untuk Menarik Investor

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Joko Widodo Presiden dalam Peluncuran Kartu Kredit Pemerintah Domestik dan QRIS Antarnegara di Jakarta, Senin (29/8/2022). Foto: Antara

Eko Listiyanto Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, Indonesia sebenarnya bisa memanfaatkan kondisi ketahanan ekonomi dalam negeri untuk menarik hati para investor.

“Memang banyak keluhan investor bukan di nasional, tapi pada waktu urus izin di daerah. Sebetulnya, kalau memikat hati investor atau membuat mereka tertarik untuk tetap menginvestasikan dana di Indonesia, kita harus pandai menjadikan aspek minimnya risiko resesi di Indonesia sebagai jualan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (1/12/2022).

Berbagai indikator makro, lanjut Eko, menunjukkan ketahanan kondisi ekonomi Indonesia. Bahkan, lembaga internasional juga memprediksi perekomonian Indonesia masih mampu tumbuh di tahun depan dengan tingkat inflasi yang masih dalam level moderat.

Padahal, banyak negara besar yang menggalami gejolak ekonomi, seperti Inggris, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China.

“Itu diolah saja menjadi bahasa positif untuk menggaet investor. Karena kalau mereka tunggu Eropa pulih mungkin situasinya akan sangat bergantung dari Rusia-Ukraina. Dan mungkin agak lama,” ungkapnya.

Selain itu, Indonesia juga patut memanfaatkan kondisi geopolitik untuk menggaet investor asing. Eko menyebut beberapa negara yang relatif dominan berinvestasi di China tengah mencari tujuan investasi baru untuk memitigasi kecenderungan investasi di Negeri Tirai Bambu.

“Beberapa negara investor merasa khawatir dengan besarnya ketergantungan terhadap China dalam konteks investasi. Ada beberapa langkah politik China, baru-baru ini, yang agak relatif berseberangan dengan apa yang diinginkan global,” terangnya.

Dia mengambil contoh Korea Selatan sebagai negara investor yang khawatir dengan keberlanjutan investasi di China.

“Ini menjadi masalah bagi investor Korsel ketika harus mengekspor ke Amerika Serikat (AS). Karena, mereka buat pabriknya di China. Ada kekhawatiran jangka menengah panjang investor Korea Selatan kalau terus mengalirkan uangnya ke China,” tambahnya.

Di sisi lain, Eko menyebut akhirnya investor yang telah masuk di Indonesia juga akan melihat kenyataan lapangan. Sehingga, Eko menyarankan ada upaya untuk membuat investor betah di Indonesia.

“Tentu saja dipoles dengan data-data makro yang relatif kita tahan krisis itu bagus. Tapi, pada akhirnya kondisi nyata di lapangan yang menentukan,” kata Eko.

Sebelumnya, Joko Widodo Presiden mengatakan situasi ekonomi tahun depan akan semakin sulit akibat ancaman resesi global. Ekonomi global dibayangi berbagai persoalan, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi yang anjlok, krisis fiskal, energi dan pangan.

Jokowi mengimbau jangan sampai ada yang mempersulit usaha pemerintah dalam menarik investor dan mengejar target realisasi investasi.

“Saya tidak mau dengar lagi ada yang mempersulit, baik di pusat atau pun di daerah. Baik di pusat, provinsi, kabupaten, dan kota,” tuturnya, Rabu (30/11/2022), di Jakarta.

Sementara itu, Fahmy Radhi Ekonom Universitas Gajah Mada optimistis Pemerintah Indonesia mampu meraih komitmen investasi baik bilateral maupun multilateral.

“Peringatan Presiden lebih pada mengajak waspada dan menjaga momentum perekonomian pascapandemi yang cukup bagus, barangkali seperti itu. Saya optimistis Indonesia tidak akan terpuruk tahun 2023, basisnya data historis, terakhir pertumbuhan ekonomi triwulan III 5,7 persen (year on year). Itu pertumbuhan yang cukup kuat, artinya landasan cukup kuat untuk 2023,” jelasnya.

Dia menambahkan, Indonesia cukup kokoh di tengah perlambatan ekonomi dunia. Salah satunya disokong oleh windfall produk energi seperti batubara, minyak dan nikel.

Windfall jadi penopang devisa, pertumbuhan ekonomi, dan penguatan Rupiah,” tandasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait