Senin, 30 Januari 2023

Kadin Jatim: Penggunaan Teknologi Bisa Tingkatkan Industri Gula Nasional

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Adik Dwi Putranto Ketua Kadin Jatim (tiga dari kiri) bersama Heru Suseno (dua dari kiri) bersama dengan Susan Tricia Dirut PT Fireworks Indonesia (tiga dari kanan) saat menyaksikan beberapa mesin pengolah gula di pameran "Sugarex Indonesia" di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (23/11/2022). Foto: Kadin Jatim

Adik Dwi Putranto Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) menegaskan penggunaan teknologi pergulaan sangat penting untuk meningkatkan produksi gula nasional, terlebih kondisi global saat ini kurang bagus.

“Jadi untuk industri gula yang harus dilakukan adalah efisiensi. Kalau efisiensi ya mekanisasi. Ini penting karena di pedesaan tenaga kerja kebanyakan di sektor pertanian, tetapi semakin lama semakin berkurang dan mahal. Jadi pameran ini sangat bagus dan tepat karena industri gula Jatim paling besar,” ujar Adik Dwi Putranto usai membuka pameran “Sugarex Indonesia” di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (23/11/2022).

Dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, disebutkan besarnya industri pergulaan di Jatim bisa dilihat dari banyaknya Pabrik Gula (PG) yang mencapai 29 pabrik. Selain itu, potensi dan peluang bisnis gula di Indonesia cukup besar karena masih kurangnya gula, baik untuk konsumsi maupun industrinya.

“Oleh karena itu pemerintah mendorong supaya produktifitas petani meningkat baik secara kuantitas dan kualitas, dengan berbagai macam teknologi dan penelitian sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam produktivitas dan daya saing,” ujar Adik.

Pengembangan berbagai macam teknologi, lanjutnya, sudah mulai dilakukan dalam rantai produksi gula. Pemanfaatan secara maksimal, diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan gula rumah tangga pada tahun depan.

“Kunci kesuksesan industri gula di tanah air adalah meningkatkan efektifitas dalam produktivitas dan daya saing. Artinya jika kita melakukan perubahan pengelolaan industri gula yang bersifat teknologi modern, tentu akan meningkatnya pendapatan, meningkatnya produksi gula, serta mengintegrasikan dan menyesuaikan model bisnis di industri gula,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Heru Suseno Kepala Dinas Perkebunan Jatim mengatakan saat ini proses tanam hingga panen tebu oleh petani masih konvensional. Petani masih kurang bisa menjangkau mekanisasi karena besarnya investasi yang dibutuhkan.

“Harapan saya, ini akan difasilitasi oleh PG. Jika ada alat mekanik seperti itu yang difasilitasi oleh PG, akan menjadi peluang bagi petani untuk lebih berminat menanam tebu. Karena PG ini kan membina petani di wilayahnya, harusnya mereka menfasilitasi agar produktifitas semakin baik,” ujar Heru.

PG, lanjutnya, harus bisa mengatur supaya petani bisa memanfaatkan peralatan dan mesin. Karena mekanisasi dalam industri pergulaan menjadi sebuah keniscayaan supaya swasembada gula, khususnya gula konsumsi bisa tercapai di tahun 2025.

Terkait produksi gula Jatim, ia mengatakan pada tahun ini ada kenaikan dari 1,098 juta ton di tahun 2021, menjadi 1,19 juta di 2022. Sedangkan tebu yang digiling juga semakin banyak, dari 198 ribu hektare di tahun 2021 menjadi 203 ribu hektare di 2022.

“Dengan melihat potensi sekarang dan dengan harga gula yang naik, saya yakin produksi gula di tahun 2023 bisa mencapai 1,2 juta ton karena ini akan menjadi penyemangat bagi petani untuk menanam tebu,” terang Heru.

Sementara itu, Aris Lukito Kepala Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) menambahkan kolaborasi seluruh stakeholder pergulaan, jadi kunci menyukseskan industri gula nasional.

“Kita dari riset melakukan penelitian produktifitas, dibantu stakeholder industri dan pemerintah, saya kira sinergi dan kolaborasi ini akan mampu meningkatkan produksi karen tidak ada yang bisa bekerja sendiri,” ujar Aris Lukito.

Lebih lanjut, kata dia, saat ini P3GI tengah melakukan sejumlah penelitian untuk meningkatkan produksi gula nasional, mulai dari bibit atau varietas tebu yang memiliki kualitas unggul hingga peningkatan rendemen saat panen. Karena, tantangan dalam industri pergulaan ada dua, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi.

‘Ketika intensifikasi maka kita harus menaikkan produktifitas. Dan pada 10 oktober yang lalu kami sudah mengenalkan enam varietas bibir tebu baru untuk mendukung pencapaian kinerja produksi dan ini tetap kita kembangkan yang bisa dinikmati oleh semua stakeholder,” ungkapnya.

Dari keenam varietas baru tersebut, rata-rata produktifitasnya sangat tinggi dengan rendemen diatas 10 persen, serta viber konten juga dinilai cukup tinggi. Sementara dari sisi panen, P3GI juga telah melakukan riset untuk optimalisasi rendaman.

“Ada pemacu kemasakan yang jadi alternatif untuk memaksimalkan potensi panen tebu. Ini dalam bentuk liquid yang akan di-spray ke tanaman tebu dari aras,” tambahnya. (bil/ipg)

Berita Terkait